"RETORIKA"
pengantar
ü Realitas Manusia
dalam Berbahasa
ü Bahasa sebagai
sarana komunikasi
PENGERTIAN DAN PENTINGNYA RETORIKA (SENI BERBICARA)
Retorika adalah suatu gaya/seni berbicara baik yang dicapai
berdasarkan bakat alami (talenta) dan keterampilan teknis. Dewasa ini retorika
diartikan sebagai kesenian untuk berbicara baik, yang dipergunakan dalam proses
komunikasi antar manusia. Kesenian berbicara ini bukan hanya berarti berbicara
secara lancar tampa jalan pikiran yang jelas dan tanpa isi, melainkan suatu
kemampuan untuk berbicara dan berpidato secara singkat, jelas, padat dan
mengesankan. Retorika modern mencakup ingatan yang kuat, daya kreasi dan
fantasi yang tinggi, teknik pengungkapan yang tepat dan daya pembuktian serta
penilaian yang tepat. Ber-retorika juga
harus dapat dipertanggungjawabkan disertai pemilihan kata dan nada bicara yang
sesuai dengan tujuan, ruang, waktu, situasi, dan siapa lawan bicara yang
dihadapi.
Titik tolak retorika adalah berbicara. Berbicara berarti
mengucapkan kata atau kalimat kepada seseorang atau sekelompok orang, untuk
mencapai suatu tujuan tertentu (misalnya memberikan informasi atau memberi
informasi). Berbicara adalah salah satu kemampuan khusus pada manusia. Oleh
karena itu pembicaraan setua umur bangsa manusia. Bahasa dan pembicaraan ini
muncul, ketika manusia mengucapkan dan menyampaikan pikirannya kepada manusia
lain.
Retorika modern adalah gabungan yang serasi antara
pengetahuan, pikiran , kesenian dan kesanggupan berbicara. Dalam bahasa
percakapan atau bahasa populer, retorika berarti pada tempat yang tepat, pada
waktu yang tepat, atas cara yang lebih efektif, mengucapkan kata – kata yang
tepat, benar dan mengesankan. Ini berarti orang harus dapat berbicara jelas,
singkat dan efektif. jelas supaya mudah dimengerti; singkat untuk
mengefektifkan waktu dan sebagai tanda kepintaran ; dan efektif karena apa
gunanya berbicara kalau tidak membawa efek ? dalam konteks ini sebuah pepatah
cina mengatakan ,”orang yang menembak banyak, belum tentu seorang penembak yang
baik. Orang yang berbicara banyak tidak selalu berarti seorang yang pandai
bicara.”
Keterampilan dan kesanggupan untuk menguasai seni berbicara
ini dapat dicapai dengan mencontoh para rektor atau tokoh-tokoh yang terkenal
dengan mempelajari dan mempergunakan hukum – hukum retorika dan dengan
melakukan latihan yang teratur. Dalam seni berbicara dituntut juga penguasaan
bahan dan pengungkapan yang tepat melalui bahasa.
Retorika sebagai Seni Berbicara
Berbicara merupakan alat komunikasi paling efektif dan
efesien. Persoalan berbicara tak dapat dilepaskan sejak sejarah manusia mulai
diperkenalkankan. Bahkan Allah SWT memiliki sifat kalam artinya Maha Berfirman.
Itulah sebabnya Nabi Musa ketika lidahnya kurang begitu fasih berbicara, maka
Allah membimbing dia dengan seubua doa : rabbis rahli shadri wayassirli amri
wahlul uqdatam millisani yafqahu qauli (QS. Thaha (20) :
Imam al-Akhdlariy menyebutkan bahwa yang membedakan manusia
dengan makhluk lainnya adalah bahwa manusia itu disebut hayawanun nathiqun
artinya “binatang yang pandai berbicara”[1] meskipun secara etika sepertinya
terlalu berani beliau menyebut manusia dengan binatang. Demikian pula orang-orang
yang mampu mengubah sejarah peradaban dunia, mereka itu pada umumnya sangat
piawai dalam mengolah kata dan bermain kalimat. Mulai dari para filusuf Yunani
seperti Socrates, Aristoteles, dan Plato. Sampai dengan para politikus, dan
negarawan seperti Hitler, Musolini, Thomas Aquinas, Montesqueu, hingga
negarawan kita yang cukup mahir dalam berorator seperti Bung Karno dan Bung
Tomo.
Kita juga tentu sering tertegun menyimak pembicaraan para
da’i kondang, seperti KH. Zaenuddin MZ, Aa Gym, Ust. Jepri Al-Bukhari, dan Ust.
Arifin Ilham. Mereka memiliki karakter gaya bicara yang berbeda dan pendengar
akan terlena dalam buaian kata-kata indah mereka. Kesimpulannnya adalah bahwa
berbicara yang baik dan bermakna akan mengandung kekekuatan spiritual
tersendiri.
Berbahasa Indonesia yang baik merupakan bagian identitas
bangsa. Seyogyanya berbicara yang baik dan benar sesuai dengan kaidah bahasa
Indonesia yang baku harus dapat disosialisasikan oleh para publik figur,
selebritis, di negeri ini. Pada era orde baru tampaknya justru yang merusak
kaidah bahasa Indonesia adalah orang nomor satu di Indonesia. Indikasi
“pengrusakkan” kaidah bahasa Indonesia era sekarang kiranya didominasi oleh
bahasa iklan di media masa. Dalam hal ini perlu diadakan aturan main dalam
memproduksi bahasa sebuah iklan, agar tidak merusak tatanan kaidah yang sudah
baku.
Penggunaan bahasa dan isitilah asing yang diadopsikan ke
dalam bahasa Indonesia seharusnya dibatasi. Kalau tidak bisa disederhanakan
oleh si pembicara sebaiknya tidak perlu diucapkan. Akan tetapi justru gejala
ini dibuat sengaja oleh orang-orang yang masih setengah-setengah mengenyam
pendidikan tinggi. Atau demi gengsi-gengsian mereka berbicara yang sok ilmiah.
Ironisnya, justru mereka sendiri tidak mengerti apa sebenarnya isi pembicaraannya.
Sya’ir-sya’ir lagu, bahasa iklan, bahasa dialog
sinetron/film (dengan tanpa mengurangi kebebasan berekspresi) sebaiknya selalu
memperhatikan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Para calon pejabat dan pemimpin negara sebaiknya ditatar
dulu bagaimana berbahasa Indonesia yang baik.
Sehingga tidak
terjadi pemubadziran anggaran negara untuk mengadakan kongres bahasa Indonesia.
Di satu sisi keputusan kongres di keluarkan, di sisi lain pola berbicara para
pejabat masih tetap pada pola lama.
Sepanjang sejarah, kongres bahasa Indonesia itu sudah sering
dilaksanakan. Sehingga yang disebut dengan EYD entah akan berapa kali lagi akan
disempurnakan. Barangkali akan lebih monumental jika gramatikal bahasa
Indonesia itu secara resmi diundangkan. Dengan segala implikasinya, layaknya
sebuah undang-undang (lengkap dengan sanksi hukum, jika ada penyalahgunaan
istilah atau lainnya). Berbeda sekali dengan gramatikal bahasa Inggris, di mana
sejak abad IV sampai sekarang tetap sama. Demikian pula dengan gramatikal bahasa
Arab, sejak al-Qur’an diturunkan XV abad yang silam, hingga sekarang masih
tetap utuh.
Lalu, ada apa dengan tata bahasa Indonesia ? Mengapa selalu
berubah-ubah ?. Hal ini didak lain disebabkan karena kuatnya pengaruh suhu
politik. Contohnya, setiap kali ganti mentri/ kabinet maka setiap kali ganti
istilah. SMP jadi SLTP kembali lagi ke SMP, SMA jadi SMU kembali lagi ke SMA.
Gelar sarjana untuk satu disiplin ilmu yang sama sampai sangat beragam.
Akhirnya masyarakat awam yang dibikin bingung.
Pentingnya Seni Berbicara (Retorika)
Retorika dan Berbicara
Terkadang kita sering tidak sadar seberapa pentingkah
berbicara dalam kehidupan kita. Banyak orang berbicara semaunya, seenaknya
tanpa memikirkan apa isi dari pembicaraan mereka tersebut. Sebenarnya berbicara
mempunyai artian mengucapkan kata atau kalimat kepada seseorang atau sekelompok
orang, untuk mencapai tujuan tertentu (misalnya memberikan informasi atau
memberi motivasi). Tapi sering kali kita mengalami kesulitan dalam
mengungkapakan maksud dan isi pikiran kita kepada orang lain. Bahkan sering
pula maksud yang kita sampaikan berbeda dengan yang ditangkap oleh pendengar.
Oleh karena itu berbicara sangatlah penting karena yang
membedakan manusia dari hewan maupun makhluk lainnya adalah kesanggupan berbicara.
Manusia adalah makhluk yang sanggup berkomunikasi lewat bahasa dan berbicara.
Tetapi yang lebih mencirikan hakikat manusia sebagai manusia penuh adalah
kepandaian dan keterampilan dalam berbicara. Pengetahuan bahasa saja belum
cukup! Kebesaran dan kehebatan seseorang sebagai manusia juga ditentukan oleh
kepandaiannya dalam berbahasa, oleh keterampilannya dalam mengungkapkan pikiran
secara tepat dan meyakinkan. Seni keterampilan berbicara sering disebut dengan
Retorika.
Quintilianus, seorang bapak ilmu retorika berkebangsaan
Romawi mengatakan, “Hanya orang yang pandai bicara adalah sungguh-sungguh
manusia.” Di dalam dunia musik ada lelucon yang berbunyi, “Bermain piano itu
tidak sulit! Orang hanya menempatkan jari yang tepat, pada saat yang tepat, di
atas tangga nada yang tepat.”
Lelucon dari dunia musik diatas juga dapat dikenakan ke
dalam ilmu retorika : ”Berbicara itu sama sekali tidak sulit! Orang hanya harus
mengucapkan kata-kata yang tepat, pada saat yang tepat, kepada pendengar yang
tepat.”
Memang untuk terampil dalam berbicara tidaklah semudah
itu.Untuk menjadi seorang yang pandai bicara, dibutuhkan latihan yang
sistematis dan tekun. Sejarah sudah membuktikannya! Orang-orang kenamaan
seperti : Demosthenes, Cicero, Napoleon Bonaparte, winston Churchill, Adolf
Hitler, J.F Kennedy, Marthin Luther King adalah orang-orang yang menjadi retor
terkenal lewat latihan tang teratur, sistematis dan tekun.
Lalu mengapa kita perlu mempelajari retorika? Sering orang
mengatakan, ”Dia tahu banyak, hanya tidak dapat mengungkapkan dengan baik. Dia
tidak dapat mengungkapkan pikirannya secara meyakinkan.” Sangatlah menyedihkan,
apabila orang memiliki pengetahuan yang berguna, tetapi tidak dapat
mengkomunikasikannya secara mengesankan dan meyakinkan kepada orang lain. Hal
tersebut merupakan salah satu contoh mengapa retorika itu perlu.
Jadi apakah sebenarnya retorika itu ?? Retorika berarti
kesenian untuk berbicara baik (Kunst, gut zu redden atau Ars bene dicendi),
yang dicapai berdasarkan bakat alam (talenta) dan keterampilan teknis (ars,
techne). Sekarang ini retorika diartikan sebagai kesenian untuk berbicara baik
, yang dipergunakan dalam proses komunikasi antarmanusia. Kesenian berbicara
ini bukan hanya berarti berbicara lancar tanpa jalan pikiran yang jelas dan
tanpa isi, melainkan suatu kemapuan untuk berbicara dan berpidato secara
singkat, jelas, padat dan mengesankan.
Retorika modern mencakup ingatan yang kuat, daya kreasi dan
fantasi yang tinggi, teknik pengungkapan yang tepat dan daya pembuktian serta
penilaian yang tepat. Retorika modern adalah gabungan yang serasi antara
pengetahuan, pikiran, kesenian, dan kesanggupan berbicara.
Dalam bahasa percakapan atau bahasa populer, retorika
berarti pada tempat yang tepat, pada waktu yang tepat, atas cara yang lebih
efektif, mengucapkan kata-kata yang tepat, benar dan mengesankan. Itu berarti
kita harus dapat berbicara jelas, singkat dan efektif. Jelas supaya mudah dimengerti; singkat untuk
mengefektifksn waktu dan sebagai tanda kepintaran; dan efektif karena apa
gunanya kalau berbicara tidak membawa efek?
Dalam konteks ini sebuah pepatah Cina mengatakan, ”Orang
yang menembak banyak belum tentu seorang penembak yang baik, dan Orang yang
berbicara banyak tidak selalu berarti seorang yang pandai bicara.”
Alasan untuk mempelajari retorika:
Quintilianus mengatakan : ”Tidak ada anugrah yang lebih
indah, yang diberikan oleh para dewa, daripada keluhuran berbicara.”
St. Agustinus, yang juga seorang retor, mengatakan :
”Kepandaian berbicara adalah seni yang mencakup segala-galanya.”
Sebuah pepatah tua mengatakan, ”Berbicaralah, supaya saya
dapat melihat dan mengenal anda.”
Martin Luther berpendapat, ”Siapa yang pandai berbicara adalah
seorang manusia; sebab berbicara adalah kebijaksanaan; dan kebijaksanaan adalah
berbicara.”
Di atas selembar Papirus yang ditemukan di dalam sebuah
makam tua di Mesir tertulis, ”Binalah dirimu menjadi seorang ahli pidato, sebab
dengan tiu engkau akan menang.”
Lalu mengapa kita perlu belajar retorika? Mengapa kita mau
menguasai ilmu pandai bicara?
Di dalam masyarakat umumnya dicari para pemimpin atau
orang-orang berpengaruh, yang memiliki kepandaian di dalam hal berbicara. Juga
di bidang-bidang lain seperti perindustrian, perekonomian dan bidang sosial,
kepandaian berbicara atau keterampilan mempergunakan bahasa secara efektif
sangat diandalkan.
Menguasai kesanggupan berbahasa dan keterampilan berbicara
menjadi alasan utama keberhasilan orang-orang terkenal di dalam Sejarah Dunia
seperti : Demosthenes, Socrates, J. Caesar, St. Agustinus, St. Ambrosius,
Martin Luther, Martin Luther King, J.F Kennedy, Soekarno dan lain-lain.
Dalam Sejarah Dunia justru kepandaian berbicara atau
berpidato merupakan instrumen utama untuk mempengaruhi massa. Bahasa
dipergunakan untuk meyakinkan orang lain. Ketidakmampuan dalam mempergunakan
bahasa,membuat ketidakjelasan dalam mengungkapkan masalah atau pikiran dapat
membawa dampak negatif dalam hidup dan karya seorang pemimpin. Oleh karena itu,
pengetahuan tentang retorika dan ilmu komunikasi yang memadai akan membawa
keuntungan bagi pribadi bersangkuatan dalam beberapa bidang tertentu.
Banyak pria dan wanita dalam Sejarah memperoleh suskes besar
dalam hidup dan kariernya sebagai pemimpin, berkat penguasaan ilmu retorika.
Sebab penguasaan teknik berbicara akan mempertinggi kepercayaan terhadap diri
dan memberi rasa pasti kepada orang yang
bersangkutan. Bagi para pemimpin, retorika adalah alat penting untuk
mempengaruhi dan menguasai manusia. Bagi para penjual, kepandaian berbicara
merupakan sarana penting untuk menjual-belikan barang dagangannya.
Barangsiapa yang menguasai ilmu retorika dan
mempergunakannya secara wajar akan mendapat sukses dalam hidup dan karyanya !
Retorika (dari bahasa Yunani ῥήτωρ,
rhêtôr, orator, teacher) adalah sebuah teknik pembujuk-rayuan secara persuasi
untuk menghasilkan bujukan dengan melalui karakter pembicara, emosional atau
argumen (logo), awalnya Aristoteles mencetuskan dalam sebuah dialog sebelum The
Rhetoric dengan judul ‘Grullos’ atau Plato menulis dalam Gorgias, secara umum
ialah seni manipulatif atau teknik persuasi politik yang bersifat transaksional
dengan menggunakan lambang untuk mengidentifikasi pembicara dengan pendengar
melalui pidato, persuader dan yang dipersuasi saling bekerja sama dalam
merumuskan nilai, keprcayaan dan pengharapan mereka. Ini yang dikatakan Kenneth
Burke (1969) sebagai konsubstansialitas dengan penggunaan media oral atau
tertulis, bagaimanapun, definisi dari retorika telah berkembang jauh sejak
retorika naik sebagai bahan studi di universitas. Dengan ini, ada perbedaan
antara retorika klasik (dengan definisi yang sudah disebutkan diatas) dan
praktek kontemporer dari retorika yang termasuk analisa atas teks tertulis dan
visual.
Dalam doktrin retorika Aristoteles [1] terdapat tiga teknis
alat persuasi politik yaitu deliberatif, forensik dan demonstratif. Retorika
deliberatif memfokuskan diri pada apa yang akan terjadi dikemudian bila
diterapkan sebuah kebijakan saat sekarang. Retorika forensik lebih memfokuskan
pada sifat yuridis dan berfokus pada apa yang terjadi pada masa lalu untuk
menunjukkan bersalah atau tidak, pertanggungjawaban atau ganjaran. Retorika
demonstartif memfokuskan pada epideiktik, wacana memuji atau penistaan dengan
tujuan memperkuat sifat baik atau sifat buruk seseorang, lembaga maupun
gagasan.
Aristoteles adalah murid Plato, filsuf terkenal dari zaman
Yunani Kuno. Kala itu, di Yunani dikenal Kaum Sophie yang mengajarkan cara
berbicara atau berorasi kepada orang-orang awam, pengacara, serta para
politisi. Plato sendiri banyak menyindir perilaku Kaum Sophie ini karena
menurutnya orasi yang mereka ajarkan itu miskin teori, dan terkesan dangkal.
Aristoteles berpendapat bahwa retorika itu sendiri
sebenarnya bersifat netral. Maksudnya adalah orator itu sendiri bisa memiliki
tujuan yang mulia atau justru hanya menyebarkan omongan yang gombal atau bahkan
dusta belaka. Menurutnya, “…by using these justly one would do the greatest
good, and unjustly, the greatest harm” (1991: 35). Aristoteles masih percaya
bahwa moralitas adalah yang paling utama dalam retorika. Akan tetapi dia juga
menyatakan bahwa retorika adalah seni. Retorika yang sukses adalah yang mampu
memenuhi dua unsur, yaitu kebijaksanaan (wisdom) dan kemampuan dalam mengolah
kata-kata (eloquence).
Rethoric, salah satu karya terbesar Aristoteles, banyak
dilihat sebagai studi tentang psikologi khalayak yang sangat bagus. Aristoteles
dinilai mampu membawa retorika menjadi sebuah ilmu, dengan cara secara sistematis
menyelidiki efek dari pembicara, orasi, serta audiensnya. Orator sendiri
dilihat oleh Aristoteles sebagai orang yang menggunakan pengetahuannya sebagai
seni. Jadi, orasi atau retorika adalah seni berorasi.
Aristoteles melihat fungsi retorika sebagai komunikasi
‘persuasif’, meskipun dia tidak menyebutkan hal ini secara tegas. Meskipun
begitu, dia menekankan bahwa retorika adalah komunikasi yang sangat menghindari
metode yang kohersif.
Aristoteles kemudian menyebutkan tentang klasifikasi tiga
kondisi audiens dalam studi retorika. Klasifikasi yang pertama adalah courtroom
speaking, yaitu yang dicontohkan dengan situasi ketika hakim sedang menimbang
untuk memutuskan tersangka bersalah atau tidak bersalah dalam suatu sidang
peradilan. Ketika seorang Penuntut dan Pembela beradu argumentasi dalam
persidangan tersebut, maka keduanya telah melakukan judicial rethoric.
Yang kedua adalah political speaking, yang bertujuan untuk
mempengaruhi legislator atau pemilih untuk ikut serta dalam pilihan politik
tertentu. Debat dalam kampanye termasuk dalam kategori ini. Sedangkan yang
ketiga adalah ceremonial speaking, di mana yang dilakukan adalah upaya
mendapatkan sanjungan atau menyalahkan pihak lain guna mendapatkan perhatian
dari khalayak. Mungkin yang masuk kategori ini semacam tabligh akbar atau
sejenisnya.
Karena muridnya terbiasa dengan metode dialectic Socrates,
yaitu metode diskusi tanya-jawab, one-on-one discussion, maka Aristoteles
menyebutkan retorika adalah kebalikannya. Retorika adalah diksusi dari satu
orang kepada banyak orang. Jika dialectic adalah upaya untuk mencari kebenaran,
maka retorika mencoba menunjukkan kebenaran yang telah diketemukan sebelumnya.
Dialectic menjawab pertanyaan filosofis yang umum, retorika hanya fokus pada
satu hal saja. Dialectic berurusan dengan kepastian, sedang retorika berurusan
dengan probabilitas (kemungkinan). Menurutnya, retorika adalah seni untuk
mengungkapkan suatu kebenaran kepada khalayak yang belum yakin sepenuhnya
terhadap kebenaran tersebut, dengan cara yang paling cocok atau sesuai.
Menurut Aristoteles, kualitas persuasi dari retorika
bergantung kepada tiga aspek pembuktian, yaitu logika (logos), etika (ethos),
dan emosional (pathos). Pembuktian logika berangkat dari argumentasi pembicara
atau orator itu sendiri, pembuktian etis dilihat dari bagaimana karakter dari
orator terungkap melalui pesan-pesan yang disampaikannya dalam orasi, dan
pembuktian emosional dapat dirasakan dari bagaimana transmisi perasaan dari
orator mampu tersampaikan kepada khalayaknya.
Aristoteles mengutarakan tentang dua konsep pembuktian logis
(logical proof), yakni enthymeme dan example (contoh). Enthymeme sendiri adalah
semacam silogisme yang belum sempurna. Berikut ini contohnya:
Premis mayor : Semua manusia memiliki derajat yang sama
Premis minor : Saya adalah manusia
Konklusi : Maka saya memiliki derajat yang sama
Dalam entymeme, biasanya hanya menggunakan premis “semua
manusia memiliki derajat yang sama dengan manusia yang lain…..Saya memiliki
derajat yang sama”, tanpa perlu menggunakan premis “saya adalah manusia”.
Entymeme ini digunakan dengan tujuan agar khalayak
menggunakan kerangka logika tertentu, sehingga mereka semacam diberikan ‘ruang’
untuk menafsirkan premis yang digunakan dalam silogisme yang dimaksud oleh
orator tadi. Dengan memberikan ‘ruang’ tadi pada dasarnya khalayak digiring
untuk menggunakan cara berpikir yang sama dengan apa yang dipikirkan oleh
orator. Sejauh orasi yang digunakan dapat masuk ke dalam logika khalayak tadi,
maka pembuktian logis dari orasi yang dilakukan akan terasa cukup efektif.
Enthymeme kemudian diperkuat dengan example atau contoh.
Jika enthymeme digunakan sebagai pembentuk logika atau kerangka berpikir, maka
contoh dipakai untuk memperkuat pembuktian dengan detail contoh-contoh dari
pemikiran yang dimaksudkan sebelumnya.
Pembuktian etis (ethical proof) menurut Aristoteles
berpulang kepada kredibilitas dari orator tersebut. Retorika yang baik tidak
hanya mengandalkan kata-kata yang baik semata, melainkan bahwa oratornya
sendiri juga harus ‘terlihat’ memiliki kredibilitas. Karena seringkali khalayak
sudah cukup terpesona kepada seseorang, bahkan sebelum orang tersebut berpidato
atau berorasi. Sebelum kata-kata keluar dari mulut orang tersebut.
Dalam Rethoric, Aristoteles menyebutkan tentang tiga sumber
kredibilitas yang baik, yaitu intelligence, character, dan goodwill.
Intelligence atau kecerdasan lebih kepada persoalan
kebijaksanaan dan kemampuan dalam berbagi nilai atau kepercayaan antara orator
dengan khalayaknya. Maksudnya adalah khalayak seringkali menilai bahwa orator
tersebut ‘cerdas’ adalah sejauh mana mereka sepakat atau memiliki kesamaan
pemikiran, cara berpikir, atau ide dengan orator tersebut. Orator yang cerdas,
oleh karenanya mampu menyesuaikan diri atau mampu membaca cara berpikir khalayaknya,
untuk kemudian disesuaikan dengan cara berpikirnya.
Character lebih kepada citra orator sebagai orang yang baik
dan orang yang jujur. Jika seorang orator mampu memiliki citra sebagai orang
yang baik dan jujur, apapun kata-kata yang disampaikan dalam orasinya maka
khalayak cenderung lebih mudah untuk percaya. Begitu pula sebaliknya, jika
orator yang bersangkutan memiliki citra yang kurang baik maka sebaik apapun
kata-kata yang disampaikannya khalayak sulit untuk percaya.
Good will atau niat baik, adalah penilaian positif yang coba
ditularkan oleh orator kepada khalayaknya. Seorang orator mungkin mampu
memperlihatkan kecerdasannya, menunjukkan karakter kepribadiannya, akan tetapi
belum tentu mampu ‘menyentuh hati’ khalayaknya. Niat baik ini biasanya dapat
dirasakan oleh hati khalayak.
Pembuktian emosional (emotional proof). Di sini orator
dituntut untuk mampu menyesuaikan suasana emosional yang ingin dicapai dalam
sebuah orasi. Orator yang cerdas mampu mengendalikan suasana emosi yang
diinginkan, bukan apa yang diinginkan khalayak, akan tetapi lebih kepada apa
yang diinginkan oleh orator itu sendiri. Dengan mengetahui karakteristik
khalayak, pemahaman yang mendalam terhadap berbagai macam karakter emosi,
diharapkan retorika yang dilakukan dapat berjalan efektif.
Walaupun banyak ilmuwan menyatakan bahwa sebenarnya
pemikiran Aristoteles tentang retorika itu rumit, mereka kemudian
menyederhanakan pemikiran tersebut ke dalam empat konsep tentang bagaimana
mengukur kualitas seorang orator yang baik. Keempat hal tersebut adalah
bagaimana menciptakan argumentasi (invention), menyusun bahan-bahan atau materi
argumentasi (arrangement), pemilihan bahasa (style), dan bagaimana teknik
penyampaiannya (tecniques of delivery).
Untuk menciptakan argumentasi yang baik, orator dituntut
untuk memiliki pengetahuan yang luas, kemampuan penalaran dan logika yang baik
dalam berbagai macam bentuk pembicaraan. Penguasaan terhadap berbagai macam
topik, isu, informasi, data, dan sejenisnya, dapat dijadikan sebagai memori
yang setiap saat mampu dibentuk menjadi argumentasi ketika orasi dilakukan.
Semakin banyak memori yang dimiliki maka akan semakin mudah untuk menciptakan
argumentasi yang baik.
Aristoteles mengingatkan tentang pentingnya penyusunan atau
pentahapan argumentasi itu sendiri. Menurutnya, pada awal-awal orasi baiknya
adalah sebagai upaya untuk menarik perhatian dari khalayak, menjaga
kredibilitas, dan kemudian memperjelas maksud atau tujuan dari pembicaraan atau
orasi itu sendiri. Yang terakhir adalah konklusi, yang sebaiknya adalah
mengupayakan bagaimana khalayak akan selalu mengingat apa-apa yang telah kita
katakan, dan kita meninggalkan khalayak dengan citra yang positif tentang diri
kita dan ide-ide yang telah kita sampaikan kepada mereka.
Style atau gaya bicara adalah tentang bagaimana kemapuan
seorang orator menggunakan cara atau gaya bicara tertentu. Gaya bicara ini
ibarat karakteristik si orator itu sendiri. Ada orator yang bagus karena
dinilai memiliki gaya orasi yang unik, menarik, dan bukan tentang kata-kata apa
yang disampaikannya.
Style ini juga terkait erat dengan cara penyampaian
kata-kata atau argumentasi kepada khalayak. Cara penyampaian yang menarik
adalah hal yang penting dalam sebuah orasi. Karena seringkali kefektifan orasi
dilihat dari sejauh mana khalayak menilai cara bicara atau cara orasi orang
tersebut menarik atau tidak. Mengenai apa yang disampaikannnya itu menjadi hal
yang berikutnya.
Para pengkritik terhadap teori retorika Aristoteles ini
mengatakan bahwa kesalahan terbesar di sini adalah audiens atau khalayak
dianggap pasif. Orator menurut Aristoteles dianggap akan selalu mampu
menyampaikan apa-apa yang dimaksudkannya kepada khalayak sejauh mereka
mengikuti anjuran-anjuran Aristoteles tersebut. Ada faktor yang penting yang
terlupa oleh Aristoteles, yaitu situasi. Padahal faktor ini adalah salah satu
aspek penting yang perlu diperhatikan dalam praktek retorika itu sendiri.
Di luar itu semua, teori retorika ini memang banyak dinilai
memadai jika dilihat sebagai landasan dalam studi dan praktek retorika.
Tentunya seiring masa perlu dilakukan beragai macam penyesuaian dan semacamnya.
Akan tetapi yang terpenting dari itu semua bahwa retorika atau komunikasi
secama umum pada dasarnya adalah seni, sehingga tidak akan mampu untuk
terbakukan dalam bentuk-bentuk aturan apapun. Seringnya, semuanya berpulang
kepada manusia itu sendiri.
Diposkan oleh Dwi Haryanto Hidayat di Kamis, September 01,
2011
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi
ke Facebook
Retorika sebagai Proses Komunikasi
Definisi Komunikasi
Dalam kehidupan manusia proses komunikasi selalu dilakukan
baik secara sadar maupun tidak sadar. Namun banyak orang yang mendefinisikan
komunikasi hanya sebagai alat untuk berhubungan dengan satu sama lain.
Komunikasi berasal dari kata latin cum yang berarti dengan, dan unus yang
artinya satu dari kata bilangan. Kedua istiliah tersebut bergabung dan menjadi
sebuah kata yaitu communio dan diartikan kedalam bahasa Inggris menjadi kata
Cummunion yang memiliki arti kebersamaan, persatuan, ataupun hubungan. Kata
communion kemudian berubah sifatnya menjadi kata kerja benda yaitu kata
Communicatio atau dalam bahasa Inggris Communication, yang kemudian diartikan
kedalam bahasa Indonesia menjadi kata Komunikasi. Komunikasi didefinisikan
sebagai proses pertukaran informasi melalui sebuah media yang disampaikan oleh
seseorang kepada orang lain dan kemudian menimbulkan sebuah pemahaman.
Dalam buku Pengantar Ilmu Komunikasi yang ditulis oleh
Wiryanto, terdapat definisi yang didefinisikan oleh Berger and Chaffe (1983:17),
“Communication science seeks to understand the production, processing and
effect of symbol and signal system by developing testable theories containing
lawful generalization, that explain phenomena associated with production,
proccesing and effect” yang berarti Komunikasi adalah ilmu yang berusaha untuk
memahami sebuah produksi, proses, dan efek dari sebuah simbol dan sinyal dengan
mengembangkan teori-teori yang diuji menurut hukum generalisasi dan menjelaskan
mengenai fenomena terhadap produksi, proses, dan efek. Artinya sebuah
komunikasi harus terjadi dengan adanya product yang melingkupi pembicara dengan
pendengar, proses yang artinya peristiwa
bagaimana terjadinya komunikasi tersebut, dan efek yang artinya hubungan timbal
balik terhadap informasi yang disampaikan oleh penginformasi kepada pendengar.
Untuk lebih memahami definisi komunikasi, berikut beberapa
definisi komunikasi menurut para ahli:
Laswell, Komunikasi adalah proses yang menggambarkan siapa
mengatakan dengan cara apa, kepada siapa dengan efek apa.
Carl I Hovland, proses dimana seorang individu atau
komunikator mengoperkan stimulan, biasanya dengan lamabang-lambang bahasa
(verbal maupun nonverbal) untuk mengubah tingkah laku orang lain.
John Fiskie (1990:1), Communication is one of those human
activities that everyone recognizes but few can define satisfactorily.
Edwin Emery, komunikasi adalah seni menyampaikan informasi,
ide, dan sikap seseorang kepada orang lain.
Gode sebagaimana yang dikutip Wiryanto (2004:6), “it is a
procces that makes common to or several what was the monopoly of one or some.”
Komunikasi adalah sebuah proses yang membuat kebersamaan bagi dua atau lebih
yang di monopoly oleh seseorang atau lebih.
Rudolph F. Verderber, dkk (2008:24), Communication as the
procces of creating and sharing meaning, whether the context is informal
conversation, group interaction, or public speaking.
Turner (2008:5), Komunikasi adalah proses dimana
individu-individu menggunakan simbol-simbol untuk menciptakan dan
menginterprestasikan makna dalam lingkungan mereka.
Tommy Suprapto (2009:7), membagi pengertian Komunikasi
berdasarkan tiga hal, yaitu pengertian secara etimologis, terminologis, dan
pradigmatis.
Secara Etimologis, komunikasi dipelajari berdasarkan
asal-usul kata, yaitu komunikasi yang berasal dari bahasa latin “Communicatio”
yang bersumber dari kata commnis yang berarti sama makna mengenai sesuatu hal
yang dikomunikasikan.
Secara Terminologis, komunikasi berarti proses penyampaian
suatu pernyataan oleh seseorang kepada orang lain.
Secara Paradigmatis, komunikasi berarti pola yang meliputi
sejumlah komponen berkolerasi satu sama lain secara fungsional untuk mencapai
tujuan tertentu. Contohnya seperti ceramah, kuliah, kotbah, diplomasi, dan
sebagainya.
Proses Komunikasi
Dalam berkomunikasi, tentunya ada sebuah informasi yang akan
kita sampaikan kepada seseorang. Informasi tersebut tentu akan sampai kepada
orang lain jika sudah mengalami sebuah proses. Proses tersebut terdiri dari
beberapa tahap, yaitu sumber, pesan, media, situsi, gangguan, penerima, dan
reaksi (feedback).
1. Sumber (Source)
Pelaku adalah seorang individu atau kelompok yang akan
menyampaikan sebuah informasi kepada orang lain (penerima). Informasi yang di
sampaikan bisa berupa verbal maupun nonverbal. Sebagai pengirim informasi,
participants haruslah memberikan informasi yang bermutu kepada pendengar,
sehingga apa yang disampaikan oleh pelaku akan di lakukan oleh pendengar.
Karena sesuai dengan tujuan utama retorika, yaitu mempengaruhi pendengar sesuai
dengan keinginan pelaku pengirim pesan.
Dalam meyampaikan sebuah informasi, sumber atau sender,
terlebih dahulu harus memikirkan atau mengemas perkataan apa yang akan ia
sampaikan. Istilah ini disebut dengan enconding. Dengan adanya enconding,
pengirim atau pelaku, memikirkan informasi apa yang akan ia sampaikan. Kemudian
infromasi tersebut ditransfer kedalam otak dan disampaikan kepada pendengar
menjadi sebuah simbol atau lambang baik dalam bentuk kata-kata ataupun
gerak-gerik. Dengan adanya encoding, pengirim juga dapat memikirkan bagaimana
cara yang baik untuk dapat membuat pendengar mengerti dan memahami informasi
yang sumber sampaikan.
2. Pesan (Massages)
Pesan atau ide yang disampaikan oleh pelaku dapat berupa
pesan verbal ataupun nonverbal. Dalam penyampaian sebuah pesan atau informasi,
tentunya tujuan utamanya adalah untuk membuat pendengar mempercayai apa yang
sumber katakan. Dan tujuan pendengar adalah untuk mendapatkan sebuah berita.
Untuk itu, ada hal-hal yang perlu diperhatikan dalam sebuah pesan
berkomunikasi, yaitu makna, simbol, encod & decod.
Makna dalam hal ini berarti dasar dari sebuah pemikiran.
Maksudnya dalam menyampaikan sebuah informasi kepada orang lain, pendengar
tersebut minimal sudah mengetahui dasar dari hal yang akan ia sampaikan. Jika
penerima/pendengar tidak memiliki dasar pengalaman mengenai makna tersebut,
maka penyampaian berita atau informasi tersebut tidak akan tersampaikan dengan
baik, dan bahkan bisa terjadi miss communication atau salah paham. Ini akan
menjadi tugas yang berat bagi pengirim berita agar informasi tersebut bisa
dipahami oleh penerima pesan. Karena itu akan lebih baik, jika kedua pihak
memiliki pengalaman atau pengetahuan mengenai informasi yang akan disampaikan.
Simbol dalam hal ini berupa kata-kata, bunyi, atupun
tindakan terhadap sebuah informasi untuk mewakili sebuah gagasan/ide dan juga
perasaan.
Encoding & Decoding. Encod adalah proses untuk
merumuskan sebuah pesan baik dalam kata-kata maupun isyarat. Ecod digunakan
oleh Pengirim atau Sumber (Sender or Source). Sedangkan Decod adalah proses
untuk menafsirkan makna yang disampaikan oleh pengirim kepada penerima. Decod
digunakan oleh penerima
3. Media (Channels)
Dalam meyampaikan sebuah informasi, tentu ada sebuah media
yang digunakan sebagai perantara untuk memperjelas penyampaian informasi
tersebut. Media yang digunakan dalam penyampaian informasi ini pun beragam. Ada
media lisan atau tertulis.
Media lisan; media yang disampaikan secara lisan baik langsung
(melalui diri sendiri) maupun tidak langsung. Contoh media lisan secara tidak
langsung dengan menggunakan telepon, atau videotape. Penggunaan Skype di zaman
sekarang ini juga bisa menjadi sarana dalam berkomunikasi secara tidak
langsung.
Keuntungan dari media lisan adalah:
Mendapat tanggapan langsung ketika sedang berkomunikasi.
Memungkinkan untuk dapat melihat bagaimana ekspresi dari
penerima ketika berkomunikasi, baik gerak-geriknya, suara, dan juga raut wajah
penerima informasi.
Dapat dilakukan dengan cepat tanpa menunggu berhari-hari.
Media Tulisan; media berkomunikasi dengan menggunakan alat
bantu dalam bentuk tulisan. Comtoh media ini adalah surat, memo, fax, telegram,
brosur, note, gambar, grafik, dan lain-lain.
Keuntungan dari media tulis adalah:
Tanggapan dari berita yang kita sampaikan bisa di simpan.
Jika pengirim lupa akan tanggapan yang penerima sampaikan,
pengirim bisa membuka kembali isi dari surat yang menjadi balasan tersebut
4. Situasi (Context)
Dalam beretorika, tentu kita harus memperhatikan situasi dan
kondisi dalam berkomunikasi. Retorika yang kita sampaikan tentu akan berbeda
kepada orang-orang di pedesaan dengan orang yang sudah memiliki pengetahuan
dalam sebuah bidang. Penginfromasi tidak boleh menyamaratakan kondisi ketika
berkomunikasi dengan semua pihak. Perhatikan situasi dan pendengarnya.
Contohnya dalam berpidato dihadapan orang-orang yang memiliki pengetahuan dalam
bidang tema yang disampaikan oleh orang yang berpidato. Tentu orang yang
berpidato harus memiliki pengalaman yang lebih di banding dengan pendengar.
Sebab dalam berkomunikasi atau beretorika, orang tersebut akan membagikan
pengalamannya dengan pendengar. Jika orator tersebut menyampaikan informasi
yang sudah diketahui banyak orang, maka kemungkinan situasi yang terjadi dalam
pidato tersebut akan berlanngsung dengan tidak baik. Pendengar akan merasa
bosan dengan penyampaian informasi yang disampaikan orator.
Kondisi berkomunikasi ketika sedang berpesta tentu akan
berbeda ketika sedang rapat. Bahasa yang digunakan juga harus diperhatikan.
Penggunaan bahasa Formal & Informal harus diterapkan dalam sebuah konteks.
Dalam rapat, penggunaan bahasa yang seharusnya adalah menggunakan bahasa
Formal, yaitu bahasa yang sesuai dengan EYD. Sedangkan dalam berpesta, bahasa
yang digunakan akan lebih sederhana dan santai. Sangat aneh jika dalam rapat
menggunakan bahasa yang informal, sedangkan ketika berpesta bahasa yang
digunakan adalah bahasa formal. Reaksi orang-orang akan beragam ketika komunikasi
tersebut tidak sesuai dengan konteks. Ada yang tertawa, ada yang menegur, ada
pula yang diam namun ia bergumam dalam hati menyatakan bahwa komunikator
tersebut tidak pandai dalam menyiasati penggunaan bahasa ketika berada di suatu
tempat. Karena itu konteks (situasi dan kondisi) juga harus diperhatikan dalam
berkomunikasi ataupun beretorika.
5. Gangguan (Noise)
Dalam berkomunikasi tidak jarang terjadi gangguan (noise).
Kata noise berasal dari bahasa ilmu kelistrikkan yang menartikan bahwa suatu
keadaan atas ketidaklancaran atau kurangnya ketetapan peraturan. Penggunaan
kata-kata sukar dalam penyampaian informasi juga bisa menjadi salah satu
penyebab gangguan tercapainya tujuan informasi tersebut. Selain kata-kata yang
sulut dimengeri, ketidakjelasan dalam menyampaikan informasi juga bisa menjadi
sebuah gangguan. Untuk itu, ada baiknya dalam menyampaikan informasi haruslah
bersifat ekonomis dan informatif. Ekonomis artinya, penyampaian komunikasi
tidak perlu panjang dan bertele-tele. Lebih baik singkat namun sifatnya jelas
dan dimengerti pendengar. Informatif artinya sesuai dengan kebutuhan yang
diinginkan oleh pendengar. Tidak bersifat fiktif.
Namun tidak jarang, gangguan yang terjadi dalam komunikasi
berasal dari audience atau pendengar. Hal ini didasarkan pada sifat psikologis
(Tommy 2009:15), yaitu:
Selective attention. Maksudnya pendengar sesungguhnya tidak
ingin mendengar informasi atau pidato yang disampaikan oleh orator. Tentu hal
ini akan menjadi masalah dalam penyampaian informasi.
Selective perception. Maksudnya, pendengar cenderung
memikirkan makna yang disampaikan oleh orator sesuai dengan apa yang ia pahami.
Namun ternyata pemahamannya tidak sesuai dengan kebenaran atau keinginan yang
disampaikan oleh orator. Hal ini bisa menimbulkan kesalahpahaman dalam
berkomunikasi
Selective retention. Maksudnya, pendengar memahami makna
yang disampaikan oleh orator. Namun pendengar cenderung berpikir mengenai apa
yang ia inginkan. Contohnya, seorang pemakai narkoba di beri pengarahan akan
bahayanya penggunaan narkoba, untuk itu ia disuruh berhenti menggunakan barang
haram tersebut. Namun karena dipikirannya adalah kenikmatan dalam menggunakan
narkoba, maka ia tidak memperdulikan perkataan orator akan bahaya narkoba. Hal
ini menjadi sebuah masalah dalam penyampaian informasi.
Ada empat jenis gangguan dalam berkomunikasi, yaitu gangguan
semantik, gangguan fisik (eksternal), gangguan psikologis, dan juga gangguan
fisiologis.
• Gangguan Semantik (Semantic Noise)
Gangguan semantik adalah gangguan berdasarkan pengaruh
linguistik dalam penyampaian pesan. Biasanya berupa kata-kata dalam bahasa
bidang tertentu, seperti bahasa di bidang kedokteran yang disampaikan kepada
orang-orang yang tidak memiliki pemahaman akan bidang tersebut.
• Gangguan Fisik (Eksternal)
Gangguan ini berasal dari kondisi fisik. Contohnya orang
yang sedang sakit disuruh fokus dalam mendengarkan sebuah pesan. Maka secara
fisik orang tersebut tidak dapat menerima isi pesan yang disampaikan dengan
baik.
• Gangguan Psikologis
Gangguan ini sama seperi gangguan yang dijelaskan
sebelumnya, yaitu gangguan selective attention, selective perception, dan
selective retention.
• Gangguan Fisiologis
Gangguan Fisiologis adalah gangguan yang bisa terjadi ketika
merasa sakit, lapar atau lelah.
6. Penerima (Receiver)
Setelah mendapatkan pesan dari pengirim (Sender), maka
penerima harus memahami isi pesan tersebut. Isi pesan tersebut dipahami dengan
istilah decoding. Pesan Verbal maupun Nonverbal yang disampaikan oleh orator
kemudian dipahami oleh penerima. Hal ini dapat memberikan nilai positif untuk
pendengar, yaitu bertambahnya pengetahuan atau wawasan berdasarkan pesan yang
disampaikan oleh orator.
7. Umpan Bailik (Feedback)
Umpan balik adalah tanggapan penerima berdasarkan pesan yang
disampaikan oleh pengirim pesan. Tanggapan tersebut dapat berupa tanggapan
verbal atau nonverbal. Selain bentuk tanggapan dari tersebut, ada juga
tanggapan dari segi positif atau negatif (Agus 2003:18). Tanggapan tersebut
akan bersifat positif apabila penerima menyetujui isi pesan yang disampaikan.
Sedangkan tanggapan yang sifatnya negatif adalah pesan yang tidak disetujui
oleh recevier.
Bentuk-Bentuk Komunikasi
Dalam penyampaian pesan, terdapat bentuk-bentuk dari
komunikasi. Bentuk-bentuk ini lebih didasari dari jumlah recevier dan forum
penyampaian informasi tersebut.
1. Intrapersonal Communication
Intrapersonal Communication adalah bentuk komunikasi yang
dikaji dari segi psikologis. Kenapa dikaji dari segi psikologis? Karena
interpersonal communication adalah bentuk komunikasi dengan diri sendiri yang
berlangsung dipikiran komunikator. Komunikasi ini tentunya dikendalikan oleh
diri sendiri tanpa ada campur tangan orang lain. Verderber (2008:9), “When you
send your self a reminder note as an e-mail or text messege, you are communication
interpersonally”
2. Interpersonal Communication
Interpersonal Communication adalah komunikasi yang
berlangsung antara dua individu. Dalam buku Wiryanto, dijabarkan definisi dari
interpersonal Communication dari beberapa pakar, seperti Bittner (1985:10) yang
mengatakan bahwa komunikasi antarpribadi berlangsung antara dua, tiga orang,
atau mungkin empat orang yang terjadi secara spontan dan tidak berstrukur.
Ciri-ciri dari komunikasi interpersonal communication ini
sebagaimana yang dikutip Wiryanto (2004) dari Barnlund.
Ciri-ciri tersebut adalah:
Bersifat spontan;
Tidak mempunyai struktur;
Terjadi secara kebetulan;
Tidak mengejar tujuan yang direncanakan;
Identitas keanggotaannya tidak jelas;
Dapat terjadi hanya sambil lalu.
Selain ciri-ciri dari bentuk komunikasi antarpribadi
tersebut, terdapat pula ciri-ciri dari efektivitas komunikasi antarpribadi. Hal
ini seperti yang dikutip Wiryanto (2004:36) dari Kumar (2000: 121-122)
Keterbukaan (openess). Kemauan untuk menanggapi dengan
senang hati informasi yang diterima di dalam menghadapi hubungan antarpribadi;
Empati (emphaty). Merasakan apa yang dirasakan orang lain;
Dukungan (supportiveness). Situasi terbuka untuk mendukung
komunikasi berlangsung secara efektif;
asa positif (positiveness). Seseorang harus memiliki rasa
positif terhadap dirinya, mendorong orang lain lebih aktif berpartisipasi, dan menciptakan situasi
komunikasi kondusif untuk interaksi efektif.
Kesetaraan (equality). Pengakuan secara diam-diam bahwa
kedua belah pihak menghargai, berguna, dan mempunyai sesuatu yang penting untuk
disumbangkan.
3. Komunikasi Kelompok
Bentuk komunikasi ini melibatkan sebuah organisasi. Dalam
hal ini, seseorang akan mendapat pengalaman yang lebih jika mampu beretorika
dalam sebuah organisasi. Misalnya seorang mahasiswa yang tidak berani
mengungkapkan ide/gagasannya di dalam kelas didepan teman-temannya dan
dihadapan dosen, maka ia dapat berlatih untuk melancarkan kepercayaan dirinya
didepan anggota organisasinya. Karena di dalam sebuah organisasi, seseorang
akan lebih merasa nyaman mengungkapan gagasannya didepan orang yang lebih tua
seperi berbicara kepada dosen.
Selain itu orang yang memiliki atau berpartisipasi di dalam
sebuah organisasi, maka ia akan medapat lebih banyak relation. Sebuah hubungan
yang baik antarsesama akan sangat penting untuk dibentuk, apalagi meningat
manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup secara sendiri.
4. Komunikasi Kelompok Kecil
Bentuk dari komunikasi kelompok kecil dilihat berdasarkan
jumlah anggotanya. Umunya jumlah anggota dari kelompok ini melibatkan tiga
sampai dua puluh anggota, dan tidak boleh lebih dari lima puluh orang. Biasanya
hal yang dibahas dari kelompok ini lebih ringan seperti masalah rancangan
kebijakan dalam kelompok tersebut.
5. Public Communication
Bentuk komunikasi ini berlangsung antara satu orang dengan
orang lain. Namun dalam forum terbuka yang jumlah pendengarnya lebih dari dua
puluh orang. Di dalam bentuk komunikasi ini, speaker (seseorang yang menjadi
sumber dan berbicara di depan publik) harus bertanggung jawab atas apa yang ia
sampaikan dan mengorganisasi ide yang akan disampaikan. Dalam hal ini retorika
akan sangat berperan penting dalam proses penyampaian pesan kepada pendengar,
sebab tujuan speaker sebenarnya adalah untuk mempengaruhi pendengar seusai
dengan apa yang pembicara katakan. Dalam forum ini, dapat terjadi sesi tanya
jawab antara speaker/pembicara dengan pendengar.
6. Mass Communication
Mass Communication atau dalam bahasa Indonesia adalah
komunikasi masa. Bentuk dari komunikasi ini dengan menggunakan media.
Komunikasi ini terjadi secara tidak langsung dari pengirim kepada si penerima.
Media yang digunakan berupa media cetak seperti majalah dan surat kabar, dan
media elektronik seperti televisi dan radio.
Ciri-ciri dari komunikasi masa:
Berlangsung satu arah; Dalam komunikasi masa, umpan balik
atau feed back baru akan diperoleh setelah komunikasi berlangsung.
Komunikator pada komunikasi massa melembaga; Informasi yang
disampaikan melalui media massa merupakan produk bersama. Seorang komunikator
dalam media masa bertindak atas nama lembaga dan nyaris tidak memiliki
kebebasan individual. Oleh sebab itu, komunikatornya melembaga. Lebih dari itu,
karena pesan-pesan yang disebarkan melalui media massa merupakan hasil kerja
sama, maka komunikatornya di sebut juga dengan collective comunicator.
Pesan-pesan bersifat umum. Pesan-pesan yang disampaikan oleh
komunikan kepada audience haruslah
bersifat umun yang artinya untuk orang banyak. Hal ini dikarenakan dalam
komunikasi masa, media yang digunakan dalam penyampaian pesan sifatnya lebih
umum. Semua orang dapat melihat dan mendengar informasi yang disampaikan oleh
komunikan.
Melahirkan keserempakan.
Ketika seseorang beretorika, maka tujuan dari tindakan yang ia lakukan
adalah untuk mempersuasi para pendengar. Begitu juga dengan berkomunikasi.
Terlebih proses komunikasi masa ini dilakukan dengan sebuah media, seperti
media cetak dan media elektronik. Dengan menggunakan media seperti ini, maka
akan lebih banyak orang yang mendengar pesan yang akan disampaikan oleh
komunikan. Dengan begitu, akan lahirlah sebuah tindakan yang dilakukan secara
serempak atau secara bersamaan oleh masyarakat. Terlebih lagi, jika informasi
yang disampaikan tersebut di sampaikan di negara-negara maju yang pada saat
yang sama paling tidak dibaca oleh kurang lebih satu juta pembaca. Karena
itulah, tidak salah jika salah satu ciri dari komunikasi masa ini adalah
melahirkan keserempakan dalam melakukan sebuah tindakan.
Komunikan komunikasi massa bersifat heterogen. Ide atau
gagasan harus di konsepkan dengan baik dan benar-benar mempersiapakan semua hal
yang akan menjadi bahan dalam penyampaian pesan sebaik mungkin sebelum di
publikasikan.
Syarat Terjadinya Komunikasi
Ada empat factor yang menjadi prasyarat terjadinya suatu
proses komunikasi, yaitu:
►
Komunikator (K), adalah orang atau
pribadi yang mengatakan, mengucapkan atau menyampaikan sesuatu.
►
Warta, pesan, informasi (I), yaitu aoa yang diucapkan: apa yang disampaikan.
►
Resipiens (R), adalah orang yang mendengar atau menerima apa yang diucapkan;
apa yang disampaikan.
►
Medium (M), adalah tanda yang dipergunakan oleh komunikator untuk menyampaikan
warta atau pesan.
Agar komunikasi berjalan dengan lancar maka ada baiknya
antara komunikator dengan resipens telah terjalin sebuah pemahaman dan
pembendaharaan makna yang dimiliki keduanya, sehingga tidak terjadi
kesalahpahaman. Ketika komunikator ingin menyampaikan sebuah pesan kepada orang
lain (resipiens), maka hal yang ada dalam pikiran si komunikator tersebuut
harus di terjemahkan kedalam kode-kode yang dapat dimengerti oleh resipiens.
Resipiens menagkap pesan dan mengkodefikasikan makna yang disampaikan
komunikator, kemudian resipiens menerjemahkannya ke dalam pemahaman dan
pengertian si resipiens.
Jadi, komunikasi adalah saling hubungan antara komunikator
dan resipiens, dimana komunikator menyampaikan suatu pesan kepada resipiens
melalui medium untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
Retorika Sebagai Proses Komunikasi
Di contohkan : Sebuah mobil dijual. Pemilik mobil tentu
ingin menjual dengan harga yang memuaskan (tujuan). Dalam pembicaraan dengan
calon pembeli, penjual tentu tidak hanya menjelaskan merk, tahun keluaran,
tipe, dan ciri khas mobil, tetapi dia juga pasti akan memuji-muji mobil
tersebut. Misalnya terpelihara dengan baik, bentuknya sangat cocok dengan
keadaan jalan dan tudak pernah terjadi kecelakaan. Singakatnya : mobil bekas
yang paling ideal, yang apabila dibandingkan dengan harga, sebenarnya masih terlalu
murah !
Di lain pihak calon pembeli juga ingin membeli mobil
tersebut dengan harga yang murah (tujuan). Oleh karena itu terjadi tawar
menawar dalam perdagangan, dimana penjual dan pembeli saling beragumentasi
untuk mencapai tujuannya masing-masing.
Dari contoh diatas dapat dilihat aspek-aspek retoris sebagai
berikut :
Seorang pembicara,
menyampaikan kepada pelanggan;
Seorang pendengar
sebagai kawan bicara atau pelanggan;
Dengan maksud dan
tujuan tertentu (menjual mobil);
Memberikan
argumen-argumen terhadap isi pembicaraan;
Sambil mendengar dan
mempertimbangkan argumen-argumen balik dari pendengar;
Retorika didefinisikan sebagai seni membangun argumentasi
dan seni berbicara. Dalam perkembangannya retorika juga mencakup proses untuk
‘menyesuaikan ide dengan orang dan menyesuaikan orang dengan ide melalui
berbagai macam pesan’.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Efektivitas Komunikasi
Retoris
Ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi efektivitas dalam
proses komunikasi retoris. Faktor-faktor ini terdapat pada setiap unsur
komunikasi seperti: komunikator, pesan, medium dan resipiens.
Pada Komunikator
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi efektivitas dalam
proses komunikasi retoris adalah:
Pengetahuan Tentang Komunikasi Dan Keterampilan dan
Berkomunikasi
Yang dimaksudkan adalah penguasaan bahasa dan keterampiIan
mempergunakan bahasa; keterampilan mempergunakan media komunikasi untuk
mempermudah proses pengertian pada resipiens; kemampuan untuk mengenal dan
menganalisis situasi pendengar sehingga dapat memberikan sesuatu yang sesuai
dengan kebutuhan mereka. Di samping itu jenis hubungan antara komunikator dan
resipiens dapat juga mempengaruhi efektivitas proses komunikasi.
2. Sikap Komunikator
Sikap komunikator seperti agresif (menyerang) atau cepat
membela diri, sikap yang mantap dan meyakinkan; sikap rendah hati, rela
mendengar dan menerima anjuran dapat memberi dampak yang besar dalam proses
komunikasi retoris.
3. Pengetahuan Umum
Demi efektivitas dalam komunikasi retoris, komunikator
se-baiknya memiliki pengetahuan umum yang luas, karena dengan begitu dia dapat
mengenal dan menyelami situasi pendengar dan dapat mengerti mereka secara lebih
baik. Dia harus mengetahui dan menguasai bahan yang dibeberkan secara mendalam,
teliti dan tepat. Dia juga hendaknya mengetahui dan mengerti hal-hal praktis
dari kehidupan harian para pendengarnya, supaya dapat menyampaikan sesuatu yang
mampu menggugah hati mereka.
4. Sistem Sosial
Setiap komunikator berada dan hidup di dalam sistem
masyarakat tertentu. Posisi, pangkat atau jahatan yang dimiliki komunikator di
dalam masyarakat sangat mempengaruhi efektivitas komunikasi retoris (misalnya:
sebagai pemimpin atau bawahan; sebagai orang yang berpengaruh atau tidak).
5. Sistem Kebudayaan
Di samping sistem sosial, sistem kebudayaan yang dimiliki
se-orang komunikator juga dapat mempengaruhi efektivitas komunikasi retoris.
Tingkah laku, tata adab dan pandangan hidup yang diwarisinya dari suatu
kebudayaan tertentu akan juga mempengaruhi efektivitas dalam proses komunikasi
retoris dengan manusia lain.
Faktor-Faktor Pada Resipiens
Faktor-faktor ini pada umurnnya sama dengan faktor-faktor
yang mempengaruhi komunikator.
1. Pengetahuan tentang komunikasi dan keterampilan
berkomunikasi
Supaya terjadi komunikasi, resipiens harus menguasai Bahasa
yang dipergunakan. Keduanya hanya dapat saling berkomunikasi dan saling
mengerti apabila mereka mempergunakan perbendaharaan kata yang sama dan yang
dimengerti oleh kedua belah pihak. Komunikasi tidak akan terjadi apabila bahasa
yang dipergunakan oleh komunikator tidak dimengerti oleh resipiens. Dalam
hubungan dengan hal ini, perlu diperhatikan bahwa pendengar mempunyai cara
mendengar dan mengerti sendiri, yang dapat berbeda dari apa yang sebenarnya
dimaksudkan oleh komunikator.
2. Sikap resipiens
Faktor ini juga ikut menentukan efektivitas komunikasi
retoris. Sikap-sikap positif seperti terbuka, senang, tertarik dan simpatik
akan memberi pengaruh positif dalam proses komunikasi; Sebaliknya sikap-sikap
negatif seperti tertutup, jengkel, tidak simpatik terhadap komunikator akan
mendatangkan pengaruh negatif.
3. Sistem sosial dan kebudayaan
Sistem sosial dan kebudayaan tertentu dapat menghasilkan
sifat dan karakter khusus pada resipiens. Orang dapat bersifat patuh, rendah
hati. suka mendengar, tidak banyak bicara atau tidak berani menantang.
Di lain pihak orang bisa menjadi kritis, suka memhantah dan
tidak mudah tunduk kepada pimpinan. Juga cara menyampaikan sesuatu tidak sama
di antara masyarakat yang satu dengan yang lain. Sebab itu komunikator harus
memperhatikan segala faktor ini. apabila dia mau mengharapkan efek yang besar
dalam proses komunikasi dengan para pendengarnya.
Faktor-Faktor Pada Pesan Dan Medium
Antara komunikator dan resipiens ada pesan dan medium. Kedua
faktor ini perlu diperhatikan oleh komunikator secara khusus dalam proses
komunikasi retoris.
1. Elemen-Elemen Pesan
Komunikator menerjemahkan pesan dengan mempergunakan medium.
Dalam proses ini, komunikator harus memperhatikan elemen-elemen yang membentuk
pesan, supaya komunikasi dapat membawa efek yang bestir. Elemen-elemen itu
berupa kata-kata dan kalimat, pikiran atau ide yang dibeberkan, alat peraga
yang dipakai untuk meng-konkretisasi pesan, suara, tekanan suara, artikulasi,
mimik dan gerak-gerak untuk mempedelas pesan yang disampaikan.
2. Struktur Pesan
Struktur pesan yang ingin disampaikan juga dapat
mempengaruhi efektivitas proses komunikasi retoris. Yang perlu diperhatikan
adalah susunan organis di mana elemen-elemen itu dikedepankan untuk
mengungkapkan pesan. Pada prinsipnya struktur atau susunan pesan harus jelas
dan mudah dimengerti.
3. Isi Pesan
Isi pesan yang di ungkapkan lewat medium harus
dipertenggangkan dengan situasi resipiens. Isi pesan seharusnya mudah
ditangkap, tidak boleh terlalu sulit, dan tidak rnengandung terlalu banyak
ke-benaran, karena dapat membingungkan resipiens. Sebaiknya isi pesan dibatasi
pada satu atau dua pokok pikiran yang diuraikan secara jelas, terinci dan
tepat.
4. Proses Pembeberan
Yang dimaksudkan adalah cara membawakan dan mengemukakan
pesan dari komunikator. Ada tiga kemungkinan yang dapat dipilih, yaitu
membawakan secara bebas, tanpa teks, terikat pada teks, atau setengah bebas.
Ketiga kemungkinan ini membawa efek yang berbeda dalam proses komunikasi.
Tentang hal ini akan dibicarakan lebih lanjut.
Kegunaan Komunikasi dalam Beretorika
Mengapa komunikasi retoris itu penting? Konred Lorenz
mengatakan “ apa yang di ucapkan tidak berarti itu yang di dengar, apa yang di
dengar tidak berarti itu juga yang dimengerti, apa yang dimengerti bukan
berarti itu juga yang disetujui, apa yang disetujui bukan berarti itu yang di
terima, apa yang diterima tidak juga berarti itu yang dihayati, apa yang
dihayati tidak juga berarti mengubah tingkah laku”.
Kalimat-kalimat itu mengungkapkan kesulitan komunikasi antar
manusia. Antar ide atau pikiran dan realisasinya yang konkret terbentang satu
jalan panjang, yang memilikibeberapa kesulitan dalam penyampaian, sehingga
dapat mengurangi efektifitas dalam komunkasi.
Oleh karena itu komunikasi retoris itu sangat penting,
supaya apa yang diucapkan dapat di dengar, apa yang di dengar dapat dimengerti,
apa yang dimengerti dapat disetujui, apa yang disetujui dapat di terima, apa
yng diterima dapat di hayati, dan apa yang dihayati dapat mengubah tingkah
laku.
SEJARAH PERKEMBANGAN RETORIKA
Objek studi retorika setua kehidupan manusia. Kefasihan
bicara mungkin pertama kali dipertunjukkan dalam upacara adat: kelahiran,
kematian, lamaran, perkawinan, dan sebagainya. Pidato disampaikan oleh orang
yang mempunyai status tinggi. Dalam perkembangan peradaban pidato melingkupi
bidang yang lebih luas. “Sejarah manusia”, kata Lewis Copeland dalam kata
pengantar bukunya tentang pidato tokoh-tokoh besar dalam sejarah, “terutama
sekali adalah catatan peristiwa penting yang dramatis, yang seringkali disebabkan
oleh pidato-pidato besar.
Sejak Yunani dan Roma sampai zaman kita sekarang, kepandaian
pidato dan kenegarawanan selalu berkaitan. Banyak jago pedang juga terkenal
dengan kefasihan bicaranya yang menawan”.
Uraian sistematis retorika yang pertama diletakkan oleh
orang Syracuse, sebuah koloni Yunani di Pulau Sicilia. Bertahun-tahun koloni
itu diperintah para tiran. Tiran, di mana pun dan pada zaman apa pun, senang
menggusur tanah rakyat. Kira-kira tahun 465 SM, rakyat melancarkan revolusi.
Diktator ditumbangkan dan demokrasi ditegakkan. Pemerintah mengembalikan lagi
tanah rakyat kepada pemiliknya yang sah.
Di sinilah kemusykilan terjadi. Untuk mengambil haknya,
pemilik tanah harus sanggup meyakinkan dewan juri di pengadilan. Waktu itu,
tidak ada pengacara dan tidak ada sertifikat tanah. Setiap orang harus
meyakinkan mahkamah dengan pembicaraan saja. Sering orang tidak berhasil
memperoleh kembali tanahnya, hanya karena ia tidak pandai bicara.
Untuk membantu orang memenangkan haknya di pengadilan, Corax
menulis makalah retorika, yang diberi nama Techne Logon (Seni Kata-kata).
Walaupun makalah ini sudah tidak ada, dari para penulis sezaman, kita
mengetahui bahwa dalam makalah itu ia berbicara tentang “teknik kemungkinan”.
Bila kita tidak dapat memastikan sesuatu, mulailah dari kemungkinan umum.
Seorang kaya mencuri dan dituntut di pengadilan untuk pertama kalinya. Dengan
teknik kemungkinan, kita bertanya, “Mungkinkah seorang yang berkecukupan
mengorbankan kehormatannya dengan mencuri? Bukankah, sepanjang hidupnya, ia
tidak pernah diajukan ke pengadilan karena mencuri”. Sekarang, seorang miskin
mencuri dan diajukan ke pengadilan untuk kedua kalinya. Kita bertanya, “la
pernah mencuri dan pernah dihukum. Mana mungkin ia berani melakukan lagi
pekerjaan yang sama”. Akhirnya, retorika memang mirip “ilmu silat lidah”.
Di samping teknik kemungkinan, Corax meletakkan dasar-dasar
organisasi pesan. Ia membagi pidato pada lima bagian: pembukaan, uraian,
argumen, penjelasan tambahan, dan kesimpuln. Dari sini, para ahli retorika
kelak mengembangkan organisasi pidato.
Walaupun demokrasi gaya Syracuse tidak bertahan lama, ajaran
Corax tetap berpengaruh. Konon, Gelon, penguasa yang menggulingkan demokrasi
dan menegakkan kembali tirani, menderitahalitosis (bau mulut). Karena ia tiran
yang kejam, tak seorang pun berani memberitahukan hal itu kepadanya. Sampai di
negeri yang asing, seorang perempuan asing berani menyebutkannya. Ia terkejut.
Ia memarahi istrinya, yang bertahun-tahun begitu dekat dengannya, tetapi tidak
memberitahukannya. Istrinya menjawab bahwa karena ia tidak pernah dekat dengan
laki-laki lain, ia mengira semua laki-laki sama. Gelon tidak jadi menghukum
istrinya. Tampaknya, sang istri sudah belajar retorika dari Corax.
Masih di Pulau Sicilia, tetapi di Agrigenturn, hidup
Empedocles (490-430 SM), filosof, mistikus, politisi, dan sekaligus orator. Ia
cerdas dan menguasai banyak pengetahuan. Sebagai filosof, ia pernah berguru
kepada Pythagoras dan menulis The Nature of Things. Sebagai mistikus, ia
percaya bahwa setiap orang bisa bersatu dengan Tuhan bila ia menjauhi
perbuatan yang tercela. Sebagai politisi, ia memimpin pemberontakan untuk
menggulingkan aristokrasi dan kekuasaan diktator. Sebagai orator, menurut
Aristoteles, “ia mengajarkan prinsip-prinsip retorika, yang kelak dijual
Gorgias kepada penduduk Athena”.
Tahun 427 SM Gorgias dikirim sebagai duta ke Athena. Negeri
itu sedang tumbuh sebagai negara yang kaya. Kelas pedagang kosmopolitan selain
memiliki waktu luang lebih banyak, juga terbuka pada gagasan-gagasan baru. Di
Dewan Perwakilan Rakyat, di pengadilan, orang memerlukan kemampuan berpikir
yang jernih dan logis serta berbicara yang jelas dan persuasif. Gorgias
memenuhi kebutuhan “pasar” ini dengan mendirikan sekolah retorika. Gorgias
menekankan dimensi bahasa yang puitis dan teknik berbicara impromtu (kita bahas
pada Bab II). Ia meminta bayaran yang mahal; sekitar sepuluh ribu drachma ($
10.000) untuk seorang murid saja. Bersama Protagoras dan kawan-kawan, Gorgias
berpindah dari satu kota ke kota yang lain. Mereka adalah “dosen-dosen
terbang”.
Protagoras menyebut kelompoknya sophistai, “guru
kebijaksanaan” Sejarahwan menyebut mereka kelompok Sophis. Mereka berjasa
mengembangkan retorika dan mempopulerkannya. Retorika, bagi mereka bukan hanya
ilmu pidato, tetapi meliputi pengetahuan sastra, gramatika, dan logika. Mereka
tahu bahwa rasio tidak cukup untuk meyakinkan orang. Mereka mengajarkan
teknik-teknik memanipulasi emosi dan menggunakan prasangka untuk menyentuh hati
pendengar. Berkat kaum Sophis, abad keempat sebelum Masehi adalah abad
retorika. Jago-jago pidato muncul di pesta Olimpiade, di gedung perwakilan dan
pengadilan. Bila mereka bertanding, orang-orang Athena berdatangan dari
tempat-tempat jauh; dan menikmati “adu pidato” seperti menikmati pertandingan
tinju. Kita hanya akan menyebutkan dua tokoh saja sebagai contoh: Demosthenes
dan Isocrates.
Berbeda dengan Gorgias, Demosthenes mengembangkan gaya
bicara yang tidak berbunga-bunga, tetapi jelas dan keras. Dengan cerdik, ia
menggabungkan narasi dan argumentasi. Ia juga amat memperhatikan cara
penyampaian (delivery). Menurut Will Durant, “ia meletakkan rahasia pidato pada
akting (hypocrisis). Berdasarkan keyakinan ini, ia berlatih pidato dengan
sabar. Ia mengulang-ulangnya di depan cermin. Ia membuat gua, dan
berbulan-bulan tinggal di sana, berlatih dengan diam-diam. Pada masa-masa ini,
ia mencukur rambutnya sebelah, supaya ia tidak berani keluar dari
persembunyiannya. Di mimbar, ia melengkungkan tubuhnya, bergerak berputar,
meletakkan tangan di atas dahinya seperti berpikir, dan seringkali mengeraskan
suaranya seperti menjerit.
Demosthenes pernah diusulkan untuk diberi mahkota atas
jasa-jasanya kepada negara dan atas kenegarawanannya. Aeschines, orator
lainnya, menentang pemberian mahkota dan memandangnya tidak konstitusional. Di
depan Mahkamah yang terdiri dari ratusan anggota juri, ia melancarkan
kecamannya kepada Demosthenes. Pada gilirannya, Demosthenes menyerang Aeschines
dalam pidatonya yang terkenal Perihal Mahkota. Dewan juri memihak Demosthenes
dan menuntut Aeschines untuk membayar denda. Aeschines lari ke Rhodes dan hidup
dari kursus retorika yang tidak begitu laku. Konon, Demosthenes mengirimkan
uang kepadanya untuk membebaskannya dari kemiskinan. Persaudaraan karena
profesi!
Duel antara dua orator itu telah dikaji sepanjang sejarah.
Inilah buah pendidikan yang dirintis oleh kaum Sophis. Tetapi ini juga yang
membentuk citra negatif tentang kaum Sophis. Seorang tokoh yang berusaha
mengembangkan retorika dengan menyingkirkan Sophisme negatif adalah Isocrates.
Isocrates percaya bahwa retorika dapat meningkatkan kualitas masyarakat; bahwa
retorika tidak boleh dipisahkan dari politik dan sastra. Tetapi ia menganggap
tidak semua orang boleh diberi pelajaran ini. Retorika menjadi sebuah pelajaran
elit, hanya untuk mereka yang berbakat.
Ia mendirikan sekolah retorika yang paling berhasil tahun
391 SM. Ia mendidik muridnya menggunakan kata-kata dalam susunan yang jernih
tetapi tidak berlebih-lebihan, dalam rentetan anak kalimat yang seimbang dengan
pergeseran suara dan gagasan yang lancar. Karena ia tidak mempunyai suara yang
baik dan keberanian untuk tampil, ia hanya menuliskan pidatonya. Ia menulis
risalah-risalah pendek dan menyebarkannya. Sampai sekarang risalah-risalah ini
dianggap warisan prosa Yunani yang menakjubkan. Gaya bahasa Isocrates telah
mengilhami tokoh-tokoh retorika sepanjang zaman: Cicero, Milton, Massillon,
Jeremy Taylor, dan Edmund Burke.
Salah satu risalah yang ditulisnya mengkritik kaum Sophis.
Risalah ini ikut membantu berkembangnya kebencian kepada kaum Sophis. Di
samping itu, kaum Sophis kebanyakan para pendatang asing di Athena. Orang
selalu mencurigai yang dibawa orang asing. Apalagi mereka mengaku mengajarkan
kebijaksanaan dengan menuntut bayaran. Yang tidak sanggup membayar tentu saja
melepaskan kekecewaannya dengan mengecam mereka.
Socrates, misalnya, hanya sanggup membayar satu drachma
untuk kursus yang diberikan Prodicus. Karena itu, ia hanya memperoleh
dasar-dasar bahasa yang sangat rendah saja. Socrates mengkritik kaum Sophis
sebagai para prostitut. Orang yang menjual kecantikan untuk memperoleh uang,
kata Socrates, adalah prostitut. Begitu juga, orang yang menjual kebijaksanaan.
Murid Socrates yang menerima pendapat gurunya tentang Sophisme adalah Plato.
Plato menjadikan Gorgias dan Socrates sebagai contoh
retorika yang palsu dan retorika yang benar, atau retorika yang berdasarkan
pada Sophisme dan retorika yang berdasarkan pada filsafat. Sophisme mengajarkan
kebenaran yang relatif. Filsafat membawa orang kepada pengetahuan yang sejati.
Ketika merumuskan retorika yang benar – yang membawa orang kepada hakikat –
Plato membahas organisasi, gaya, dan penyampaian pesan. Dalam karyanya, Dialog,
Plato menganjurkan para pembicara untuk mengenal “jiwa” pendengarnya. Dengan
demikian, Plato meletakkan dasar-dasar retorika ilmiah dan psikologi khalayak.
Ia telah mengubah retorika sebagai sekumpulan teknik (Sophisme) menjadi sebuah
wacana ilmiah.
Aristoteles, murid Plato yang paling cerdas melanjutkan
kajian retorika ilmiah. Ia menulis tiga jilid buku yang berjudul De Arte
Rhetorica.
Dari Aristoteles dan ahli retorika klasik, kita memperoleh
lima tahap penyusunan pidato: terkenal sebagai Lima Hukum Retorika (The Five
Canons of Rhetoric).
Inventio (penemuan). Pada tahap ini, pembicara menggali
topik dan meneliti khalayak untuk mengetahui metode persuasi yang paling tepat.
Bagi Aristoteles, retorika tidak lain daripada “kemampuan untuk menentukan,
dalam kejadian tertentu dan situasi tertentu, metode persuasi yang ada”. Dalam
tahap ini juga, pembicara merumuskan tujuan dan mengumpulkan bahan (argumen)
yang sesuai dengan kebutuhan khalayak.
Aristoteles menyebut tiga cara untuk mempengaruhi manusia.
Pertama, Anda harus sanggup menunjukkan kepada khalayak bahwa Anda memiliki
pengetahuan yang luas, kepribadian yang terpercaya, dan status yang terhormat
(ethos). Kedua, Anda harus Menyentuh hati khalayak perasaan, emosi, harapan,
kebencian dan kasih sayang mereka (pathos). Kelak, para ahli retorika modern
menyebutnya imbauan emotional (emotional appeals). Ketiga, Anda Meyakinkan
khalayak dengan mengajukan bukti atau yang kelihatan sebagai bukti. Di sini
Anda mendekati khalayak lewat otaknya (logos).
Di samping ethos, pathos, dan logos, Aristoteles menyebutkan
dua cara lagi yang efektif untuk mempengaruhi pendengar: entimem dan contoh.
Entimem (Bahasa Yunani: “en” di dalam dan “thymos” pikiran) adalah sejenis
silogisme yang tidak lengkap, tidak untuk menghasilkan pembuktian ilmiah,
tetapi untuk menimbulkan keyakinan. Disebut tidak lengkap, karena sebagian
premis dihilangkan.
Sebagaimana Anda ketahui, silogisme terdiri atas tiga
premis: mayor, minor, dan kesimpulan. Semua manusia mempunyai perasaan iba
kepada orang yang menderita (mayor). Anda manusia (minor). Tentu Anda pun
mempunyai perasaan yang sama (kesimpulan). Ketika saya ingin mempengaruhi Anda
untuk mengasihi orang-orang yang menderita, saya berkata, “Kasihanilah mereka.
Sebagai manusia, Anda pasti mempunyai perasaan iba kepada orang yang menderita
“.Ucapan yang ditulis miring menunjukkan silogisme, yang premis mayornya
dihilangkan.
Di samping entimem, contoh adalah cara lainnya. Dengan
mengemukakan beberapa contoh, secara induktif Anda membuat kesimpulan umum.
Sembilan dari sepuluh bintang film menggunakan sabun Lnx. Jadi, sabun Lux
adalah sabun para bintang fihn.
Dispositio (penyusunan). Pada tahap ini, pembicara menyusun
pidato atau mengorganisasikan pesan. Aristoteles menyebutnya taxis, yang
berarti pembagian. Pesan harus dibagi ke dalam beberapa bagian yang berkaitan
secara logis. Susunan berikut ini mengikuti kebiasaan berpikir manusia:
pengantar, pernyataan, argumen, dan epilog. Menurut Aristoteles, pengantar
berfungsi menarik perhatian, menumbuhkan kredibilitas (ethos), dan menjelaskan
tujuan.
Elocutio (gaya). Pada tahap ini, pembicara memilih kata-kata
dan menggunakan bahasa yang tepat untuk “mengemas” pesannya. Aristoteles
memberikan nasihat ini: gunakan bahasa yang tepat, benar, dan dapat diterima;
pilih kata-kata yang jelas dan langsung; sampaikan kalimat yang indah, mulia,
dan hidup; dan sesuaikan bahasa dengan pesan, khalayak, dan pembicara.
Memoria (memori). Pada tahap ini, pembicara harus mengingat
apa yang ingin disampaikannya, dengan mengatur bahan-bahan pembicaraannya.
Aristoteles menyarankan “jembatan keledai” untuk memudahkan ingatan. Di antara
semua peninggalan retorika klasik, memori adalah yang paling kurang mendapat
perhatian para ahli retorika modern.
Pronuntiatio (penyampaian). Pada tahap ini, pembicara
menyampaikan pesannya secara lisan. Di sini, akting sangat berperan.
Demosthenes menyebutnya hypocrisis (boleh jadi dari sini muncul kata
hipokrit). Pembicara harus memperhatikan olah suara (vocis) dan
gerakangerakan,anggota badan (gestus moderatio cum venustate).
RETORIKA ZAMAN ROMAWI
Teori retorika Aristoteles sangat sistematis dan
komprehensif. Pada satu sisi, retorika telah memperoleh dasar teoretis yang
kokoh. Namun, pada sisi lain, uraiannya yang lengkap dan persuasif telah
membungkam para ahli retorika yang datang sesudahnya. Orang-orang Romawi selama
dua ratus tahun setelah De Arte Rhetorica tidak menambahkan apa-apa yang
berarti bagi perkembangan retorika.
Buku Ad Herrenium, yang ditulis dalam bahasa Latin kira-kira
100 SM, hanya mensistematisasikan dengan cara Romawi warisan retorika gaya
Yunani. Orang-orang Romawi bahkan hanya mengambil segi-segi praktisnya saja.
Walaupun begitu, kekaisaran Romawi bukan saja subur dengan sekolah-sekolah
retorika; tetapi juga kaya dengan orator-orator ulung: Antonius, Crassus,
Rufus, Hortensius. Yang disebut terakhir terkenal begitu piawai dalam berpidato
sehingga para artis berusaha mempelajari gerakan dan cara penyampaiannya.
Kemampuan Hortensius disempurnakan oleh Cicero. Karena
dibesarkan dalam keluarga kaya dan menikah dengan istri yang memberinya
kehormatan dan uang, Cicero muncul sebagai negarawan dan cendekiawan. Pernah
hanya dalam dua tahun (45-44 SM), ia menulis banyak buku filsafat dan lima buah
buku retorika. Dalam teori, ia tidak banyak menampilkan penemuan baru. Ia
banyak mengambil gagasan dari Isocrates. Ia percaya bahwa efek pidato akan
baik, bila yang berpidato adalah orang baik juga. The good man speaks well.
Dalam praktek, Cicero betul-betul orator yang sangat berpengaruh.
Caesar, penguasa Romawi yang ditakuti, memuji Cicero, “Anda
telah menemukan semua khazanah retorika, dan Andalah orang pertama yang
menggunakan semuanya. Anda telah memperoleh kemenangan yang lebih disukai dari
kemenangan para jenderal. Karena sesungguhnya lebih agung memperluas
batas-batas kecerdasan manusia daripada memperluas batas-batas kerajaan
Romawi”.
Kira-kira 57 buah pidatonya sampai kepada kita sekarang ini.
Will Durant menyimpulkan kepada kita gaya pidatonya:
Pidatonya mempunyai kelebihan dalam menyajikan secara
bergelora satu sisi masalah atau karakter; dalam menghibur khalayak dengan
humor dan anekdot; dalam menyentuh kebanggaan, prasangka, perasaan, patriotisme
dan kesalehan; dalam mengungkapkan secara keras kelemahan lawan – yang
sebenarnya atau yang diberitakan, yang tersembunyi atau yang terbuka; dalam
mengalihkan perhatian secara terampil dari pokok-pokok pembicaraan yang kurang
menguntungkan; dalam memberondong pertanyaan retoris yang sulit dijawab; dalam
menghimpun serangan-serangan, dengan kalimat-kalimat periodik yang anak-anaknya
seperti cambukan dan yang badainya membahana….
Dari tulisan-tulisannya yang sampai sekarang bisa dibaca,
kita mengetahui bahwa Cicero sangat terampil dalam menyederhanakan pembicaraan
yang sulit. Bahasa Latinnya mudah dibaca. Melalui penanya, bahasa mengalir dengan
deras tetapi indah.
Puluhan tahun sepeninggal Cicero, Quintillianus mendirikan
sekolah retorika. Ia sangat mengagumi Cicero dan berusaha merumuskan
teori-teori retorika dari pidato dan tulisannya. Apa yang dapat kita pelajari
dari Quintillianus? Banyak. Secara singkat, Will Durant menceritakan kuliah
retorika Quantillianus, yang dituliskannya dalam buku Institutio Oratoria:
Ia mendefinisikan retorika sebagai ilmu berbicara yang baik.
Pendidikan orator harus dimulai sebelum dia lahir: Ia sebaiknya berasal dari
keluarga terdidik, sehingga ia bisa menerima ajaran yang benar dan akhlak yang
baik sejak napas yang ia hirup pertama kalinya. Tidak mungkin menjadi
terpelajar dan terhormat hanya dalam satu generasi. Calon orator harus
mempelajari musik supaya ia mempunyai telinga yang dapat mendengarkan harmoni;
tarian, supaya ia memiliki keanggunan dan ritma; drama, untuk menghidupkan
kefasihannya dengan gerakan dan tindakan; gimnastik, untuk memberinya kesehatan
dan kekuatan; sastra, untuk membenhik gaya dan melatih memorinya, dan
memperlengkapinya dengan pemikiran-pemikiran besar; sains, untuk
memperkenalkan dia dengan pemahaman mengenai alam; dan filsafat, untuk
membentuk karakternya berdasarkan petunjuk akal dan bimbingan orang bijak.
Karena semua persiapan tidak ada manfaatnya jika integritas akhlak dan
kemuliaan rohani tidak melahirkan ketulusan bicara yang tak dapat ditolak.
Kemudian, pelajar retorika harus menulis sebanyak dan secermat mungkin.
Sebuah saran yang berlebihan. Tetapi kita diingatkan lagi pada
Cicero. The good man speaks well.
RETORIKA ABAD PERTENGAHAN
Sejak zaman Yunani sampai zaman Romawi, retorika selalu
berkaitan dengan kenegarawanan. Para orator umumnya terlibat dalam kegiatan
politik. Ada dua cara untuk memperoleh kemenangan politik: talk it out
(‘membicarakan sampai tuntas) atau shoot it out (menembak sampai habis).
Retorika subur pada cara pertama, cara demokrasi. Ketika demokrasi Romawi
mengalami kemunduran, dan kaisar demi kaisar memegang pemerintahan,
“membicarakan” diganti dengan “menembak”. Retorika tersingkir ke belakang
panggung. Para kaisar tidak senang mendengar orang yang pandai berbicara.
Abad pertengahan sering disebut abad kegelapan, juga buat
retorika. Ketika agama Kristen berkuasa, retorika dianggap sebagai kesenian
jahiliah. Banyak orang Kristen waktu itu melarang mempelajari retorika yang
dirumuskan oleh orang-orang Yunani dan Romawi, para penyembah berhala. Bila
orang memeluk agama Kristen, secara otomatis ia akan memiliki kemampuan untuk
nmnyampaikan kebenaran. St. Agustinus, yang telah mempelajari retorika sebelum
masuk Kristen tahun 386, adalah kekecualian pada zaman itu.
Dalam On Christian Doctrine (426), ia menjelaskan bahwa para
pengkhotbah harus sanggup mengajar, menggembirakan, dan menggerakkan – yang
oleh Cicero disebut sebagai kewajiban orator. Untuk mencapai tujuan Kristen,
yakni mengungkapkan kebenaran, kita harus mempelajari teknik penyampaian pesan.
Satu abad kemudian, di Timur muncul peradaban baru. Seorang
Nabi menyampaikan firman Tuhan, “Berilah mereka nasihat dan berbicaralah kepada
mereka dengan pembicaraan yang menyentuh jiwa mereka” (Alquran 4:63). Muhammad
saw. bersabda, memperteguh firman Tuhan ini, “Sesungguhnya dalam kemampuan
berbicara yang baik itu ada sihirnya”.
Ia sendiri seorang pembicara yang fasih – dengan kata-kata
singkat yang mengandung makna padat. Para sahabatnya bercerita bahwa ucapannya
sering menyebabkan pendengar berguncang hatinya dan berlinang air matanya.
Tetapi ia tidak hanya menyentuh hati, ia juga mengimbau akal para pendengarnya.
Ia sangat memperhatikan orang-orang yang dihadapinya, dan menyesuaikan
pesannya dengan keadaan mereka. Ada ulama yang mengumpulkan khusus pidatonya
dan menamainya Madinat al-Balaghah (Kota Balaghah). Salah seorang sahabat yang
paling dikasihinya, Ali bin Abi Thalib, mewarisi ilmunya dalam berbicara.
Seperti dilukiskan Thomas Carlyle, “every antagonist in the combats of tongue
or of sword was subdited by his eloquence and valor”. Pada Ali bin Abi Thalib,
kefasihan dan kenegarawanan bergabung kembali. Khotbah-khotbahnya dikumpulkan
dengan cermat oleh para pengikutnya dan diberi judul Nahj al-Balaghah (Jalan
Balaghah).
Balaghah menjadi disiplin ilmu yang menduduki status yang
mulia dalam peradaban Islam. Kaum Muslim menggunakan balaghah sebagai pengganti
retorika. Tetapi, warisan retorika Yunani, yang dicampakkan di Eropa Abad
Pertengahan, dikaji dengan tekun oleh para ahli balaghah. Sayang, sangat
kurang sekali studi berkenaan dengan kontribusi Balaghah pada retorika modern.
Balaghah, beserta ma’ani dan bayan, masih tersembunyi di pesantren-pesantren
dan lembaga-lembaga pendidikan Islam tradisional.
RETORIKA MODERN
Abad Pertengahan berlangsung selama seribu tahun (400-1400).
Di Eropa, selama periode panjang itu, warisan peradaban Yunani diabaikan. Pertemuan
orang Eropa dengan Islam – yang menyimpan dan mengembangkan khazanah Yunani –
dalam Perang Salib menimbulkan Renaissance. Salah seorang pemikir Renaissance
yang menarik kembali minat orang pada retorika adalah Peter Ramus. Ia membagi
retorika pada dua bagian. Inventio dan dispositio dimasukkannya sebagai bagian
logika. Sedangkan retorika hanyalah berkenaan dengan elocutio dan pronuntiatio
saja. Taksonomi Ramus berlangsung selama beberapa generasi.
Renaissance mengantarkan kita kepada retorika modern. Yang
membangun jembatan, menghubungkan Renaissance dengan retorika modern adalah
Roger Bacon (1214-1219). Ia bukan saja memperkenalkan metode eksperimental,
tetapi juga pentingnya pengetahuan tentang proses psikologis dalam studi
retorika. Ia menyatakan, “… kewajiban retorika ialah menggunakan rasio dan
imajinasi untuk menggerakkan kemauan secara lebih baik”. Rasio, imajinasi,
kemauan adalah fakultas-fakultas psikologis yang kelak menjadi kajian utama
ahli retorika modern.
Aliran pertama retorika dalam masa modern, yang menekankan
proses psikologis, dikenal sebagaialiran epistemologis. Epistemologi membahas
“teori pengetahuan”; asal-usul, sifat, metode, dan batas-batas pengetahuan
manusia. Para pemikir epistemologis berusaha mengkaji retorika klasik dalam
sorotan perkembangan psikologi kognitif (yakni, yang membahas proses mental).
George Campbell (1719-1796), dalam bukunya The Philosophy of
Rhetoric, menelaah tulisan Aristoteles, Cicero, dan Quintillianus dengan
pendekatan psikologi fakultas (bukan fakultas psikologi). Psikologi fakultas
berusaha menjelaskan sebab-musabab perilaku manusia pada empat fakultas – atau
kemampuan jiwa manusia: pemahaman, memori, imajinasi, perasaan, dan kemauan.
Retorika, menurut definisi Campbell, haruslah diarahkan kepada upaya
“mencerahkan pemahaman, menyenangkan imajinasi, menggerakkan perasaan, dan
mempengaruhi kemauan”.
Richard Whately mengembangkan retorika yang dirintis
Campbell. Ia mendasarkan teori retorikanya juga pada psikologi fakultas. Hanya
saja ia menekankan argumentasi sebagai fokus retorika. Retorika harus
mengajarkan bagaimana mencari argumentasi yang tepat dan mengorganisasikannya
secara baik. Baik Whately maupun Campbell menekankan pentingnya menelaah
proses berpikir khalayak. Karena itu, retorika yang berorientasi pada khalayak
(audience-centered) berutang budi pada kaum epistemologis – aliran pertama
retorika modern.
Aliran retorika modern kedua dikenal sebagai gerakan belles
lettres (Bahasa Prancis: tulisan yang indah). Retorika belletris sangat
mengutamakan keindahan bahasa, segi-segi estetis pesan, kadang-kadang dengan
mengabaikan segi informatifnya. Hugh Blair (1718-1800) menulis Lectures on
Rhetoric and Belles Lettres. Di sini ia menjelaskan hubungan antara retorika,
sastra, dan kritik. Ia memperkenalkan fakultas citarasa (taste), yaitu
kemampuan untuk memperoleh kenikmatan dari pertemuan dengan apa pun yang indah.
Karena memiliki fakultas citarasa, Anda senang mendengarkan musik yang indah,
membaca tulisan yang indah, melihat pemandangan yang indah, atau mencamkan
pidato yang indah. Citarasa, kata Blair, mencapai kesempurnaan ketika
kenikmatan inderawi dipadukan dengan rasio – ketika rasio dapat menjelaskan
sumber-sumber kenikmatan.
Aliran pertama (epistemologi) dan kedua (belles lettres)
terutama memusatkan perhatian mereka pada persiapan pidato – pada penyusunan
pesan dan penggunaan bahasa. Aliran ketiga – disebutgerakan elokusionis –
justru menekankan teknik penyampaian pidato. Gilbert Austin, misalnya
memberikan petunjuk praktis penyampaian pidato, “Pembicara tidak boleh melihat
melantur. Ia harus mengarahkan matanya langsung kepada pendengar, dan menjaga
ketenangannya. Ia tidak boleh segera melepaskan seluruh suaranya, tetapi
mulailah dengan nada yang paling rendah, dan mengeluarkan suaranya sedikit
saja; jika ia ingin mendiamkan gumaman orang dan mencengkeram perhatian
mereka”. James Burgh, misal yang lain, menjelaskan 71 emosi dan cara
mengungkapkannya.
Dalam perkembangan, gerakan elokusionis dikritik karena
perhatian – dan kesetiaan – yang berlebihan pada teknik. Ketika mengikuti kaum
elokusionis, pembicara tidak lagi berbicara dan bergerak secara spontan.
Gerakannya menjadi artifisial. Walaupun begitu, kaum elokusionis telah berjaya
dalam melakukan penelitian empiris sebelum merumuskan “resep-resep” penyampaian
pidato. Retorika kini tidak lagi ilmu berdasarkan semata-mata “otak-atik otak”
atau hasil perenungan rasional saja. Retorika, seperti disiplin yang lain,
dirumuskan dari hasil penelitian empiris.
Pada abad kedua puluh, retorika mengambil manfaat dari
perkembangan ilmu pengetahuan modern – khususnya ilmu-ilmu perilaku seperti
psikologi dan sosiologi. Istilah retorika pun mulai digeser olehspeech, speech
communication, atau oral communication, atau public speaking. Di bawah ini
diperkenalkan sebagian dari tokoh-tokoh retorika mutakhir:
1. James A Winans
Ia adalah perintis penggunaan psikologi modern dalam
pidatonya. Bukunya, Public Speaking, terbit tahun 1917 mempergunakan teori
psikologi dari William James dan E.B. Tichener. Sesuai dengan teori James bahwa
tindakan ditentukan oleh perhatian, Winans, mendefinisikan persuasi sebagai
“proses menumbuhkan perhatian yang memadai baik dan tidak terbagi terhadap
proposisi-proposisi”. Ia menerangkan pentingnya membangkitkan emosi melalui
motif-motif psikologis seperti kepentingan pribadi, kewajiban sosial dan kewajiban
agama. Cara berpidato yang bersifat percakapan (conversation) dan teknik-teknik
penyampaian pidato merupakan pembahasan yang amat berharga. Winans adalah
pendiri Speech Communication Association of America (1950).
2. Charles Henry Woolbert
Ia pun termasuk pendiri the Speech Communication Association
of America. Kali ini psikologi yang amat mempengaruhinya adalah behaviorisme
dari John B. Watson. Tidak heran kalau Woolbert memandang “Speech
Communication” sebagai ilmu tingkah laku. Baginya, proses penyusunan pidato
adalah kegiatan seluruh organisme. Pidato merupakan ungkapan kepribadian.
Logika adalah dasar utama persuasi. Dalam penyusunan persiapan pidato, menurut
Woolbert harus diperhatikan hal-hal berikut: (1) teliti tujuannya, (2) ketahui
khalayak dan situasinya, (3) tentukan proposisi yang cocok dengan khalayak dan
situasi tersebut, (4) pilih kalimat-kalimat yang dipertalikan secara logis.
Bukunya yang terkenal adalah The Fundamental of Speech.
3. William Noorwood Brigance
Berbeda dengan Woolbert yang menitikberatkan logika,
Brigance menekankan faktor keinginan (desire) sebagai dasar persuasi.
“Keyakinan”, ujar Brigance, “jarang merupakan hasil pemikiran. Kita cenderung
mempercayai apa yang membangkitkan keinginan kita, ketakutan kita dan emosi
kita”. Persuasi meliputi empat unsur: (1) rebut perhatian pendengar, (2)
usahakan pendengar untuk mempercayai kemampuan dan karakter Anda, (3)
dasarkanlah pemikiran pada keinginan, dan (4) kembangkan setiap gagasan sesuai
dengan sikap pendengar.
4. Alan H. Monroe
Bukunya, Principles and Types of Speech, banyak kita
pergunakan dalam buku ini. Dimulai pada pertengahan tahun 20-an Monroe beserta
stafnya meneliti proses motivasi (motivating process). Jasa, Monroe yang
terbesar adalah cara organisasi pesan. Menurut Monroe, pesan harus disusun
berdasarkan proses berpikir manusia yang disebutnya motivated sequence.
Beberapa sarjana retorika modern lainnya yang patut kita
sebut antara lain A.E. Philips (Effective Speaking, 1908), Brembeck dan Howell
(Persuasion: A Means of Social Control, 1952), R.T. Oliver(Psychology of
Persuasive Speech, 1942). Di Jerman, selain tokoh “notorious” Hitler, dengan
bukunya Mein Kampf, maka Naumann (Die Kunst der Rede, 1941), Dessoir (Die Rede
als Kunst, 1984) dan Damachke (Volkstumliche Redekunst, 1918) adalah pelopor
retorika modern juga.
Dewasa ini retorika sebagai public speaking, oral
communication, atau speech communication -diajarkan dan diteliti secara ilmiah
di lingkungan akademis. Pada waktu mendatang, ilmu ini tampaknya akan diberikan
juga pada mahasiswa-mahasiswa di luar ilmu sosial. Dr. Charles Hurst mengadakan
penelitian tentang pengaruh speech courses terhadap prestasi akademis
mahasiswa. Hasilnya membuktikan bahwa pengaruh itu cukup berarti. Mahasiswa
yang memperoleh pelajaranspeech (speech group) mendapat skor yang lebih tinggi
dalam tes belajar dan berpikir, lebih terampil dalam studi dan lebih baik dalam
hasil akademisnya dibanding dengan mahasiswa yang tidak memperoleh ajaran itu.
Hurst menyimpulkan:
Data penelitian ini menunjukkan dengan jelas bahwa kuliah
speech tingkat dasar adalah agensynthesa, yang memberikan dasar skematis bagi
mahasiswa untuk berpikir lebih teratur dan memperoleh penguasaan yang lebih
baik terhadap aneka fenomena yang membentuk kepribadian.
Penelitian ini menjadi penting bagi kita, bukan karena
dilengkapi dengan data statistik yang meyakinkan atau karena berhasil
memberikan gelar doktor bagi Hurst, tetapi karena erat kaitannya dengan prospek
retorika di masa depan.
DEFINISI PIDATO
Pidato ialah suatu ucapan dengan memperhatikan susunan kata
yang baik untuk disampaikan kepada orang banyak.
Sedangkan di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI),
pidato didefinisikan sebagai (1) Pengungkapan pikiran dalam bentuk kata-kata
yang ditujukan kepada orang banyak; (2) Wacana yang disiapkan untuk diucapkan
di depan khalayak.
Contoh pidato yaitu seperti pidato kenegaraan, pidato
menyambut hari besar, pidato pembangkit semangat, pidato sambutan acara atau
event, pidato pelepasan siswa, pidato memperingati hari Kartini, dan lain
sebagainya.
MACAM-MACAM/JENIS/SIFAT PIDATO
Ditinjau berdasarkan pada sifat dari isi pidato, pidato
dapat dibedakan menjadi:
1. Pidato Pembukaan, adalah pidato singkat yang dibawakan
oleh pembaca acara atau MC.
2. Pidato Pengarahan adalah pidato untuk mengarahkan pada
suatu pertemuan.
3. Pidato Sambutan, yaitu merupakan pidato yang disampaikan
pada suatu acara kegiatan atau peristiwa tertentu yang dapat dilakukan oleh
beberapa orang dengan waktu yang terbatas secara bergantian.
4. Pidato Peresmian, adalah pidato yang dilakukan oleh orang
yang berpengaruh untuk meresmikan sesuatu.
5. Pidato Laporan, yakni pidato yang isinya adalah
melaporkan suatu tugas atau kegiatan.
6. Pidato Pertanggungjawaban, adalah pidato yang berisi
suatu laporan pertanggungjawaban.
TUJUAN PIDATO
Pidato yang baik dapat memberikan suatu kesan positif bagi
orang-orang yang mendengar pidato tersebut. Umumnya, kegiatan berpidato
memiliki tujuan sebagai berikut.
1. Memberikan informasi
Memberikan sebuah pemahaman baru, mengingatkan, atau
memberikan informasi kepada khalayak ramai.
2. Persuasif atau mengajak
Mempengaruhi khalayak ramai agar dengan senang hati
mengikuti apa yang kita harapkan dan apa yang kita sampaikan.
3. Hiburan atau rekreasi
Menyenangkan pihak audiens dengan pidato yang kita bawakan
sehingga tecapai kepuasan dan kesenangan terhadap apa yang kita sampaikan.
METODE BERPIDATO
Di dalam kegiatan berpidato, dikenal empat macam metode
berpidato. Metode berpidato tersebut antara lain:
1. Metode Impromptu
ialah metode berpidato yang dilakukan secara spontanitas,
serta merta tanpa adanya persiapan terlebih dahulu. Metode ini sering disebut
juga dengan metode spontanitas.
2. Metode Memoriter
yaitu metode berpidato yang dilakukan dengan cara pembicara
menyampaikan isi naskah pidato yang telah dihafalkan terlebih dahulu. Metode
ini lebih dikenal dengan metode menghafal.
3. Metode Naskah
yakni metode berpidato dengan cara pembicara membaca
teks/naskah pidato yang telah dipersiapkan.
4. Metode Ekstemporan
adalah metode berpidato dengan terlebih dahulu membuat
catatan kecil atau menyiapkan garis-garis bersar konsep pidato yang akan
disampaikan.
Dari keempat metode berpidato tersebut, yang paling populer
digunakan adalah metode terakhir.
Kelebihan metode ekstemporan antara lain membuat pidato
lebih runtut dan sistematis, menghindari pengulangan bahasan yang telah
disampaiakn di awal, serta menghindari ketertinggalan poin-poin penting karena
faktor lalai atau lupa sehingga tidak sempat disampaian.
Agar pidato Anda dapat menarik minat dan perhatian
pendengar, perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1. Kemukakan fakta dengan jelas.
2. Gunakan bahasa Indonesia yang baik sehingga mampu
membangkitkan minat pendengar terhadap masalah yang kita sampaikan.
3. Berbicara secara wajar dan terbuka,
4. Sajikan materi dengan lafal dan intonasi yang tepat.
5. Gunakan mimik dan gerak-gerik secara wajar.
LANGKAH-LANGKAH MENYUSUN PIDATO
Adapun langkah-langkah yang bisa ditempuh untuk menyusun
naskah pidato adalah:
1. Menentukan topik pembicaraan
Ingat! Pemilihan topik jauh sebelum kegiatan pembicaraan
akan sangat membantu pembicara menguasai materi, mencari materi pendukung,
menambah ilustrasi, dan menyertakan bukti sebagai penguat alasan.
Topik hendaknya dipersempit sehingga tema pembiacaan tidak
meluas. Hal tersebut akan memberikan efek lebih detil dan pembahasan yang
mendalam.
2. Menetapkan tujuan
Seperti yang telah dibahas di atas, tujuan dari pidato
dibedakan menjadi tiga macam. Tetapkan tujuan dari pidato kita, memberi
informasi, mempengaruhi, atau sekadar sebagai hiburan.
NB: Di dalam memilih topik dan tujuan, hendaknya disesuaikan
dengan kemampuan diri, mempunyai arti/kegunaan bagi pendengar dan lain-lain.
3. Menyusun kerangka pidato
Kerangka di dalam pidato terdiri dari pembukaan, isi, dan
penutup.
4. Menyusun teks pidato
Dalam tapah ini, buatlah naskah pidato sedalam mungkin
berdasarkan bahan-bahan referensi yang telah dikumpulklan sebelumnya. Buatlah
pembahasan secara runtut dan sistematis.
5. Menyunting teks pidato
Di dalam tahap akhir ini, naskah drama yang telah selesai
sebaiknya anda sunting lagi. Hal tersebut dimaksudkan agar penggunaan bahasa
yang kasar, yang tidak sesuai, atau kurang komunikatif dapat diedit atau
diperbaiki. Anda juga bisa meminta salah satu teman anda untuk membacanya dan
memberikan tanggapan atau kritikan atas naskah pidato yang anda buat.
Jenis-jenis Pidato
1.jenis pidato dari segi tujuan
Jenis-jenis pidato juga dapat diidentifikasi berdasarkan
tujuan pokok pidato yang disampaikan. Berdasarkan tujuannya, kita mengenal
jenis-jenis pidato:
Pidato informatif adalah pidato yang tujuan utamanya untuk
menyampaikan informasi agar orang menjadi tahu tentang sesuatu. Pidato pesuasif
adalah pidato yang tujuan utamanya membujuk atau mempengaruhi orang lain agar
mau menerima ajakan kita secara sukarela bukan sukar rela.Pidato rekreatif
adalah pidato yang tujuan utamanya adalah menyenangkan atau menghibur orang
lain. Namun demikian, perlu disadari bahwa dalam kenyataannya ketiga jenis
pidato ini tidak dapat berdiri sendiri, melainkan saling melengkapi satu sama
lain. Perbedaan di antara ketiganya semata-mata hanya terletak pada titik berat
(emphasis) tujuan pokok pidato.Pidato Aksi, adalah pidato bertujuan
menggerakkan dengan sasaran mempersamakan visi (Tarigan, 1997: 22-23).5
2.jenis pidato dari segi persiapan
Sesuai dengan cara yang dilakukan waktu persiapan, pidato
jenis ini bisa dibagi menjdi empat macam, yaitu;
1.impromtu
2.manuskrip
3.memoriter
4.ekstempore
Impromtu. Bila anda menghadiri sebuah acara kumpulan yang
diadakan keluarga besar anda, ketika itu anda baru saja datang dari berpergian
jauh ataupun anda baru saja menyelesaikan kuliah anda, maka biasanya tanpa
terlebih dahulu memberi tahu kepada anda. Biasanya anda disuruh menyampaikan
pidato, pidato yang anda lakukan adalah pidato impromtu. Pidato seperti ini
tidak didahului dengan persiapan yang panjang.
Bagi seorang juru pidato yang sudah berpengalaman, impromtu
memiliki beberapa keuntungan, yaitu;
1.impromtu lebih dapat mengungkapkan perasaan pembicara yang
sebenarnya, karena pembicara tidak terlebih dahulu memilkirkan pendapat yang
disampaikan,
2.gagasan dan pendapatnya datang secara spontan, sehingga
tampak segar dan hidup,
3.impromtu memungkinkan anda terus berpikir.
Disamping itu, impromtu memiliki kerugian yang dapat
melenyapkan keuntungan-keuntungan di atas, lebih lebih bagi pembicara yang
masih hijau, yaitu;
1.impromtu dapat menimbulkan kesimpulan yang mentah, karena
dasar pengetahuan yang tidak memadai;
2.impromtu mengakibatkan penyampaian yang
tersendat-sendatdan tidak lancar;
3.gagasan yang disampaikan bisa acak-acakan dan ngawur;
4.karena tidak ada persiapan kemungkina bisa demam panggung.
Impromtu sebaiknya dihindari, tetapi apabila terpaksa
hal-hal berikut dapat dijakan pegangan
1.pikirkanlah telebih dahulu teknik permulaan pidato yang
baik. Misalnya: cerita, hubungan dengan pidato yang sebelumnya, bandingkan,
ilusrasi.
2.Tentukan sistem organisasi pesan. Misalnya; susunan
kronologis, teknik (pemecahan soal), kerangka sosial ekonomi-politik, hubungan
teori dan praktek.
3.Pikirkan teknik menutup pidato yang mengesankan. Kesukaran
menutup pidato biasanya merepotkan pembicara impromtu.
Manuskrip. Ini biasa disebut juga pidato dengan naskah. Juru
pidato membacakan naskah pidato dari awal samapi akhir. Manuskrip diperlukan
oleh tokoh nasional, sebab kesalahan kata saja dapat menimbulkan kekacauan dan
berakibat jelek bagi pembicara. Manuskrip juga juga dilakukan oleh ilmuan yang
melaporkan hasil penelitiannya dalam pertemuan ilmiah.
Pidato manuskrip tentu saja bukan jenis pidato yang baik
walaupun memiliki keuntungan-keuntungan sebagai berikut;
1.kata-kata dipilih sebaik-baiknya sehingga dapat
menyampaikan arti yang tepat dan pernyataan yang gamblang;
2.pernyataan dapat dihemat, karena manuskrip dapat disusun
kembali;
3.kepasihan bicara dapat dicapai, karena kata-kata sudah
disiapkan;
4.hal-hal yang ngawur atau menyimpang dapat dihindari;
5.manuskrip dapat diterbitkan atau diperbanyak.
Ditinjau dari proses komunikasi kerugiannya cukup berat,
yaitu;
1.komunikasi pendengar akan berkurang karena pembicara tidak
langsiung berbicara kepada mereka
2.pembicara tidak tidak dapat melihat pendengar dengan baik
sehingga akan kehilangan gerak dan bersikap kaku
3.umpan balik dari pendengar tidak dapat mengubah,
memperpendek, atau memperpanjang pesan
4.pembuatannya lebih lama dan hanya menyiapakan garis-garis
besarnya
untuk mengurangi kekurangan-kekurangan diatas, beberapa
petunjuk dapat diterapkan dalam penyusunan dan penyampaian manuskrip:
1.susunlah terlebih dahulu garis-garis besarnya dan siapkan
bahan-bahannya
2.tulislah manuskrip seakan-akan anda berbicara. Gunakan
gaya percakapan yang lebih informal dan langsung
3.baca naskah itu berkali-kali sambil membayangkan pendengar
4.siapkan manuskrip dengan ketikan besar, tida spasi dan
batas pinggir yang luas
Memoriter.8 Pesan pidato ditulis kemudian dinggat kata demi
kata. Seperti manuskrip, memoriter memungkinkan ungkapan yang tepat, organisasi
yang berencana, pemilihan bahasa yang teliti, gerak dan isyarat yang
diintegrasikan dengan uraian. Tetapi karena pesan sudah tetap, maka tidak
terjalin saling hubungan antara pesan dengan pendengar, kurang langsung,
memerlukan banyak waktu dan persiapan, kurang spontan, perhatian beralih kepada
kata-kata kepada usaha mengingat-ingat. Bahaya terbesar bila timbul satu kata
atau lebih hilang dari ingatan.
Ekstempore adalah jenis pidato yang paling baik dan yang paling
sering dilakukan oleh juru pidato yang mahir9. Pidato sudah dipersiapkan
sebelumnya berupa (out line) garis besarnya dan pokok-pokok penunjang
pembahasan. Tetapi pembicara tidak berusaha mengingatnya kata demi kata. Out
line itu hanya pedoman untuk mengatur gagasan yang ada dalam pikiran kita.
Keuntungan ekstempore adalah komunikasi pendengar dengan
pembicara lebih baik karena langsung kepada halayak, pesan dapat pleksibel
untuk diubah sesuai dengan kebutuhan dan penyajiannya lebih spontan.
Bagi pembicara yang belum ahli, kerugian-kerugian yang dapat
tinbul;
1.persiapan kurang baik bila terburu-buru
2.pemilihan bahasa yang jelek
3.kepasihan yang terhambat karena kesukaran memilih kata
dengan segera
4.kemungkina menyimpang dari out line
5.tidak dapat dijadikan penerbitan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar